Jumat, 20 Juli 2012

SIRINE (Kekuatan Doa dan Cinta)

Sirine namanya, cintanya tak pernah mati untuk kekasihnya yang tak pernah lagi terwujud dalam pandang. Tak henti-hentinya ia berkamuflase untuk meyakinkan dirinya, bahwa kekasihnya sedang menunggunya di sudut ruang sana. Selalu ia dikejutkan oleh suara lembut Ibunya saat mulai terlindas duka. “Nduk, uwes..ndak usah ngelamun terus...Makmur suamimu juga ndak pingin lihat kamu sedih begini.."

Sirine benci kata-kata itu, meski ia sangat merindukan belaian dari sisa orang yang menyayanginya seperti belaian Ibunya. Matanya kembali merah, hatinya selalu luluh lantah setiap kali mendengar kata-kata seperti itu. Serta merta, air matanya bersorak-sorak mewakili hatinya, menangis sedu tak berbendung malu. Tangannya mengelus-elus layar arloji yang diraihnya di pojok meja. Ia membelinya 2 tahun yang lalu, saat merayakan ulang tahun pernikahannya yang pertama. Ia ingat betul, sembari menyerahkan kado arloji itu, ia tertawa lepas menerima bingkisan dari Makmur, pisau dapur untuk memotong sayur mayur kesukaannya. Setahun berlalu, saat Makmur dikabarkan hilang pada ekspedisi yang diikutinya, di laut lepas Raja Ampat, kepulauan Papua. Namun Sirine tetap setia menunggunya pulang, dengan rindu yang tak bertalu.

Setiap ada gesekan kaki yang melintas, dengan awas ia menengokkan kepala ke arah tikungan jalan lewat jendela di kamarnya. Berharap si empunya kaki adalah Makmur, suaminya.

Diam-diam, di ujung gang itu, sepasang mata mengintai sang pemilik jendela, Salim namanya. Gundah senantiasa menyerangnya saat matanya bertemu dengan mata Sirine. Dalam diamnya, hanya tersisa kata, "Oh Sirine, andai aku bisa menghapus laramu, dan menggantikan Makmur mengelus bahumu setiap kau hendak terpejam karena lelahnya menanggung beban hidupmu"

Secara fisik Sirine bukan perempuan cantik. Tapi ia memiliki paras yang cukup apik. Kulitnya khas wanita jawa, sawo matang. Bentuk wajahnya yang tirus, dipadu dengan mata bulatnya yang indah, lazim membuat orang mudah mengingatnya. Dulu, sebelum kehilangan Makmur, Sirine ramah bukan kepalang. Senyumnya selalu mampu menyejukkan siapapun yang memandang. Kata seorang nenek tetangga rumahnya, “Yen senyum iku kudu tekan ati, koyok genduk Sirine. Tentrem banget lek diawasi.” Sekarang senyum manis itu telah dipenjarakan di lubang duka terdalam, tak seorang pun mampu meraihnya keluar. Sirine dirindukan semua orang.

***

Lek Komar, adik kandung ibu Sirinelah yang pertama kali menghabarkan hilangnya Makmur. Saat itu, Lek Komar didatangi dua orang yang mengaku keluarga teman satu tim ekspedisi yang diikuti Makmur. Mereka terlihat merasa bersalah atas kejadian itu. Pasalnya menurut cerita, Makmur, yang tergolong paling cerdas dan berani, harus menyelamatkan seluruh personil tim dalam sebuah kecelakaan kapal.

Tepatnya dini hari di bulan Februari, saat semua awak kapal tengah tertidur pulas seusai digoncang badai berjam-jam lamanya. Datanglah sekawanan hiu buas mengelilingi sisi kanan kiri kapal. Beberapa kali kawanan hiu itu menggoncang-goncang bagian bawah kapal. Mereka nampak geram, entah karena tak sabar ingin melahab daging manusia, atau karena trauma melihat kapal akibat pemburuan liar yang memusnahkan keluarga hiu di perairan Raja Ampan, Papua.

Meski tidak banyak disorot media, namun berita akan pemburuan liar hiu di laut Raja Ampat Papua tengah terjadi sejak 4 tahun yang lalu. Kasus yang paling terbaru terjadi akhir tahun kemarin. tepatnya 3 bulan sebelum hilangnya Makmur, masyarakat pantai laut Papua bersama kelompok LSM konservasi laut, memenemukan puluhan kapal yang tertangkap basah melakukan pemburuan liar. Setelah dipemeriksa lebih lanjut, ditemukan sedikitnya belasan sirip ikan hiu muda yang disembunyikan di bawah lantai kapal tempat penyimpanan ikan. Tujuannya jelas, untuk mengeruh keuntungan milyaran rupiah.

Setelah goncangan kesekian kalinya, barulah tiga personil awak kapal terbangun, Makmur salah satunya. Merasa sedang dalam kondisi bahaya, merekapun sigap dan segera membangunkan personil lainnya. Makmur yang sejak awal mengambil alih nahkoda, tengah sibuk mengecoh hiu dengan memutar-mutarkan kapal. Nafasnya terdengar ngos-ngosan, sepertinya ia telah kehilangan separoh dari energinya.

Enam puluh menit berlalu, sementara kesepuluh personil telah bersiaga, hiu yang tadinya menyebar di kanan kiri kapal, kini mulai putus asa, merekapun mulai menjauhi kapal. Sontak semua personil bersorak kegirangan, prosesi adu tos sebagai perayaan kemenangan pun tak bisa dihindarkan. Makmur yang mulanya memegang nahkoda, harus mengangkat tangannya menyambut tos dari kawan sebelahnya. Naasnya, tiba-tiba seekor hiu bertutul, diam-diam berhasil bertahan di bawah kapal. Ekornya yang sebesar dua kali tubuh pria dewasa dikibaskan hingga memecah belah kapal. Semua panik bukan kepayang. Air laut tak dapat lagi di bendung, semburatnya membasahi seluruh sisi kapal. Makmur benar-benar kehilangan kendali. Secara bersamaan tubuh seluruh personil terlempar jauh ke permukaan laut. Berpencar tak tentu arah, diombang-ambing ombak yang datang silih berganti.

Dengan garang, hiu bertutul itupun menyambar tubuh salah seorang personil yang terhempas tepat di sisi perutnya. Darah mengalir deras, bersamaan dengan ombak besar yang datang, serta kencangnya tiupan angin, dengan cepat sekawanan hiu yang tadi telah berlalu kembali mendekat. Mencabik-cabik sisa daging yang masih menggantung di antara tulang.

Makmur terhempas lumayan jauh, posisinya yang berada di paling atas kapal, memudahkan angin menghempaskannya menjauhi personil yang lain, kepalanya terbentur bongkahan kayu kapal, darahnya tak bisa keluar dari bungkusan kulit, hanya membekaskan memar yang sangat hitam di jidatnya. Ia sungguh cemas bukan kepayang, perasaan menyesal karena melepas tangannya dari penguasaan nahkoda, serta panik yang bercampur putus asa bergelanyut di kepalanya. Tiba-tiba terlintas wajah Sirine diantara keadaan buruk yang ada di hadapannya. Sirine tersenyum, senyum memberi semangat padanya. Tangan Sirine membentang ke arahnya, memintanya mendekat. Semakin Makmur mengejarnya, bayangan itu perlahan hilang, hilang ditelan senja. Air mata Makmur tiba-tiba mengucur, menyatu dalam hamparan air laut yang luas.

Setelah berenang dengan sisa energi yang dimilikinya. Makmur merasakan titik dimana persendiannya tak bisa lagi bergerak, air laut yang membalut tubuhnya mengunci rapat hidung dan mulutnya, hingga ia benar-benar tak mampu lagi bernafas. Tubuhnya mengapung diantara bongkahan kayu yang sempat di raihnya sebelum ia pingsan. Hatinya tak berhenti meminta maaf pada Sirine, serta meminta Allah menjaganya. Makmur benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali memasrahkan semuanya padaNya.

***

Tak seorang pun istri yang baik bermimpi menjadi janda akibat cerai mati oleh suaminya. Bahkan Allah telah melarang pasangan suami istri bercerai. Sebagai penguatnya, tak tanggung-tanggung Ia menyatakan akan membenci perceraian. Namun manusia tidak pernah diberi pilihan untuk satu perkara itu, kematian. Sepanjang sejarah, Allah tak sedikitpun mengenal kompromi dalam hal ini.

Sirine sadar tindakannya mengurung diri adalah salah, konsep hidup manusia harus saling memberi manfaat, sungguh masih membekas dalam dirinya hingga kini. Namun Sirine tidak bisa mengingkari, bahwa jauh di dalam lubuk hati kecilnya, ia percaya Makmur masih bernafas di luar sana. Makmur sedang merindukannya, bahkan berusaha sekuat tenaga mencari jalan pulang untuk kembali memeluknya, dan menerima kecupan sayang di keningnya.

Sirine tidak mampu membayangkan, betapa berdosanya dia, jika mengikuti saran Ibu dan orang-orang di sekelilingnya, untuk mengikhlaskan Makmur yang telah setahun lamanya tidak ada kabarnya. Meski lamaran demi lamaran datang silih berganti. Baik yang datang ke rumah langsung, atau hanya sekedar menitipkannya pada Lek Komar. Para lelaki yang terkenal baik itu bersedia menyerahkan pundaknya untuk Sirine. Salim salah satunya.

Dari semua lamaran baik itu, memang tidak semua sampai ke telinga Sirine. Ibu tak pernah berani memaksa Sirine secara berlebihan. Ia tahu hati putrinya sungguh halus. Ibu pula melarang Komar adiknya, untuk bercakap-cakap terlalu lama dengan Sirine. Kuatir Komar akan menyinggungnya dan mendesak Sirine untuk menerima lamaran dari salah seorang yang pernah memintanya.

Bagi Komar, diantara sekian pemuda yang menemuinya, hanya Salim yang menurutnya baik dan tulus untuk Sirine keponakannya. Komar sangat menyayangi Sirine, mengingat pernikahannya yang tidak berhasil membuahkan anak perempuan sama sekali. Pun juga karena sejak kecil Sirine terbiasa bermanja-manja padanya. Baginya kebahagiaan Sirine adalah kebahagiaannya juga, termasuk kesedihan Sirine adalah kesedihannya juga.

Setahun berlalu, Sirine tak juga menunjukkan minatnya untuk dipersunting pemuda lain, menggantikan Makmur. Komar pun mencoba bernegosiasi dengan mbaknya, Ibu Sirine.

“Mbak Yu, tulung sampeyan bujuk Sirine maleh. Kulo bener-bener mencemaskan keadaanne. Menurutku, de’e butuh teman cerita, teman yang bisa ngajak de’e ngobrol. Mungkin Salim bisa membantunya menata hidup baru. Aku cukup percaya sama Salim. Salim pemuda sholeh, tulus lan sopan marang wong tuo. Insyaallah Salim iso njogo Sirine Mbak Yu...”

Komar menatap mata mbak Yu nya dengan serius. Seolah ingin menegaskan bahwa ia benar-benar peduli dengan Sirine keponakannya. Meski belum menerima pengiyaan mbak yu nya, tapi Komar melihatnya tengah berpikir keras, menimbang-nimbang saran dari adiknya.

Sementara, tanpa sepengetahuan kedua kakak beradik itu, Sirine menundukkan kepalanya sembari merapikan kain pembatas yang telah bermenit-menit disingkapnya. Ia berjalan mendekati jendela, tangan kirinya meraih jam tangan Makmur di ujung meja, mengelus layarnya dan tak lama duduk mematung di atas kursi kayunya. Tatapannya kosong, ia mencoba terus berdzikir menunggu jawaban Allah atas do’a-do’anya. Tangan kananya mengurut-urutkan tasbih. Kepalanya tiba-tiba berat, saat membayangkan guratan kesedihan di wajah Lek Komar dan Ibunya.

Pelan-pelan ia sandarkan kepalanya di punggung lemari yang berdiri tepat di samping jendela. Pandangannya mengembara ke seluruh isi kamar. Matanya mengurutkan satu persatu perabotan, lalu diam-diam kembali memutar ulang semua kenangan indah yang pernah ia lalui dengan Makmur di ruangan itu.

“Betapa aku ndak pingin menggantikan posisimu di hatiku kang, tapi Allah ndak kunjung memberi jawaban. Lek Komar lan Ibu jadi ikut kurus memikirkanku. Pangapuntenmu Kang, kulo nyuwun pamit. Sepertinya Allah juga terlibat atas kedatangan Kang Salim. Mugi-mugi Allah segera memberitahukan rencananya tentang keadaanmu Kang. Pandungaku ndak pernah putus kangge njenengan.”

Isak Sirine tak mampu menahan diri. Tangannya menopang air matanya yang tak kunjung mengering setelah setahun lebih ia memanjatkan doa. Menutupi seluruh raut mukanya yang lebam akibat tangisan yang tak pernah ada putusnya. Samar ia bergumam, “Bismillahirahmanirrahim...”

***

Untuk kedua kalinya Sirine mengenakan gaun putih ini. Gaun yang dulu ia sulam sendiri untuk hari besar yang dinanti-nantinya, menikah dengan Makmur. Tak pernah ada yang tahu, kalau akhirnya akan seperti ini. Ia berias sangat sederhana, lipstik coklat kalem membaluti bibirnya yang mulai mongering. Bedak yang ia kenakan kini tidak sama dengan bedak di hari besar yang dinantinya dulu. Sirine mengenakan berbagai asecoris pemberian pihak pengantin pria, mengjunjung tradisi katanya.

Akad nikah akan dilaksanakan di masjid agung kampung. Semua persiapan tengah digelar dengan sangat sederhana. 30 menit berlalu, tamu undangan pun berjejer melingkar sesuai shofnya, perempuan di sebelah kiri dan pria di sebelah kanan. Wali beserta penghulu tengah siap di posisi masing-masing.

Upacara benar-benar telah siap, tinggal menunggu pengantin perempuan menyelesaikan langkahnya menuju tempat yang telah disediakan, di belakang Lek Komar, walinya.

Para undangan terlihat masih sangat gelisah, kepalanya tolah-toleh mencari sesosok yang paling ditunggu-tunggu. Pria yang akhirnya memenangkan hatinya Sirine setelah Makmur. Masjid itu terdapat dua sekat besar untuk hijab jamaah pria dan wanita. Hijab bagian depan yang terbuat dari papan kayu, telah digeser untuk sementara waktu. Setengah dari hijab yang tersisa dibiarkan seperti sedia kala, mengingat jumlah undangan yang tidak banyak, serta mengantisipasi setiap orang yang ingin melaksanakan sholat tahiyyatul masjid.

Sementara semua hadirin tengah disibukkan mencari sosoknya, salim justru masih menyelesaikan rakaat terakhirnya di shaf belakang hijab. Rupanya ia ingin benar-benar menyampaikan pesan terimakasihnya untuk Allah.

"Ya Allah, terimakasih tak berujung hamba sampaikan padaMu... Hamba tahu ini semua tidak lepas dari campur tanganMu. Maka bantu tangan hamba memimpin perempuan yang benar-benar hamba hormati ini, karena ketaatannya pada suaminya sebelum hamba, Makmur. Semoga engkau izinkan ia taat pula pada hamba sebagai suaminya di masa depan. Sampaikan salam hamba pada Makmur dimanapun keberadaannya Allahku, hamba mohon keikhlasannya atas segala kelemahan yang ada dalam diri hamba.”

Tepat setelah Salim menangkupkan kedua tangannya ke muka, sambil menggumamkan kata amin. Terdengar seseorang tergopoh-gopoh memasuki masjid, setengah berlari hampir saja salah satu sandal jepitnya terseret masuk ke dalam masjid.

“Assalamu’alaikum..” Ucapnya sambil mengatur nafas.

“Waalaikum salam..” Jawab seluruh orang yang mendengar, dengan wajah yang saling pandang penuh rasa penasaran.

Dari kejauhan, Salim berjalan mendekati pemberi salam tersebut. Dengan tenang ia mengelus pundak orang itu.

“Alon-alon kang, wonten nopo?”

Sementara Sirine mematung, membayangkan kabar yang datang itu berasal dari Makmur. Jantungnya berdetak kencang. Keringatnya bercucuran, hatinya tak henti melafadkan kalimat istigfar.

" Saya baru saja, didatangi orang-orang berkulit hitam, seperti orang papua kang Salim. Mereka menitipkan selembar surat niki, terose kangge Mbak Sirine lan sinten mawon yang menjadi calon suaminya.”

Tanpa dikomando, mata Salim dan Sirine sekejap bertemu, seolah saling memberi isyarat untuk mempersilahkan membuka dan membaca pesan Makmur. Namun Salim menerima surat itu dan mengantarkannya pada Sirine, calon istrinya.

“Monggo, panjenengan mawon engkang maos..”

Sirine menerimanya, dan berjalan menuju sudut masjid yang lain untuk menerima jawaban dari doa-doanya.

Papua, 21 Februari. Assalamu’alaikum…

Kekasihku Sirine, Akang benar-benar minta maaf, karena tidak bisa membisikkan semuanya langsung ke telingamu

Seperti cerita-cerita sebelumnya sayangku.

Namun yang pasti, akang ingin tegaskan bahwa saat surat ini sampai ke tanganmu, ketahuilah akang telah damai di tempat akang sekarang.

Kau tahu, Allah menyampaikan semua salammu ke akang, lewat mimpi-mimpi akang. Terimakasih atas semua doa, cinta dan air matamu buat akang.

Setelah akang terhempas ke laut lepas itu, akang terhanyut sampai puluhan jam. Beruntung, nelayan di pinggiran pantai papua menemukan akang.

Nyawa akang selamat, meski dengan keadaan yang sangat menyedihkan.

Kaki akang harus diamputasi. Kulit kepala akang menyimpan gumpalan darah yang membeku. Tak perlu menangis karena kau tidak ada di sampingku sayangku, kau telah mengobatiku dengan doa-doamu.

Akang menghabiskan sisa waktu dengan berdoa, sholat 5 waktu dengan bebaring tak berdaya di ranjang orang baik yang kau minta kepada Allah.

Hapus tangismu kekasihku, berbahagialah karena aku juga bahagia disini. Sampaikan salamku untuk calon suamimu, sungguh aku telah mengikhlaskanmu di tangannya. Aku percaya dia orang baik, karena aku tak berhenti memintanya kepada Allah untukmu. Tersenyumlah sayang, agar seluruh penghuni bumi dan malaikat ikut tersenyum untuk hari bahagiamu.

Ketahuilah, Allah merencanakan semua ini untuk kita, agar kita bisa belajar lebih ikhlas untuk menjalani semuanya. Akang tahu, kau wanita kuat.. Dengan segenap cinta, akang rela melepasmu sayang, Demi meraih cinta yang lebih hakiki, cinta kepada Ilahi Rabbi..

Wassalamu’alaikum

Sirine pun kembali menemui Salim. Ia menyerahkan kembali secarik kertas itu pada. Sembari mempersilahkan Salim membacanya. Wajahnya berbinar, nampak lebih lega dari sebelumnya.

Untuk sekian lama, akhirnya ia kembali tersenyum memandang bola mata Salim. “Terimakasih Ya Allah, kau berikan dua pria terbaik di dunia”.

***THE END***

Kekuatan Cinta memang berbanding lurus dengan Doa dan Keyakinan. Maka selalu libatkan Allah dalam setiap ritme hidupmu.

Rabu, 29 Desember 2010

About Me and My Blog.

sebenarnya blog ini lahir bukan atas penugasan yang baru saja disampaikan sebulan yang lalu. saya senang menulisdi blog, karena saya pikir menulis di blog menyimpan rasa tersendiri bagi pegiat jurnalistik.
saya memiliki jadwal tersendiri untuk menampilkan tulisan ke blog. saat waktu kosong pun kita bisa mengisinya dengan menulis diblog.so, make your expresion with your blog....
be Spirit to be a proces

Observasi Radar Malang.

Tidak hanya terjebak pada fisik

By. Fitri Aulia

Sejak Jawa Pos menelorkan konsep Seven Rad (Tujuh Radar) di Jawa Timur pertama kali akhir 1998, secara berbarengan dibentuk media sisipan Jawa Pos di daerah. Ada tujuh Radar yang terbit secara bersamaan. Yakni Radar Jember, Radar Bromo, Radar Mojokerto, Radar Kediri, Radar Bojonegoro, Radar Madiun, dan Radar Madura. Rata-rata Radar-Radar itu terbit 8 halaman. Dari sisi perkembangan, Radar-Radar itu tumbuh pesat. Peminatnya pun cukup tinggi. Hasilnya pun sesuai dengan pemikiran dan prediksi CEO Jawa Pos Dahlan Iskan waktu itu. Yakni, perkembangan koran di masa depan akan sangat ditentukan seberapa banyak local content di dalamnya. Sebab, local content itu akan mempengaruhi proximity media-media di daerah. Prediksi Dahlan Iskan itu pun tepat. Terbukti Seven Rad tumbuh cukup pesat. Dalam setahun, Radar sudah menjadi koran daerah yang cukup diperhitungkan. Apalagi Radar itu berada di dalam Jawa Pos. Perkembangan konsep local content pun makin diperbanyak. Pada kurun waktu 1999, Jawa Pos akhirnya menambah Radar-Radar baru lagi. Yakni Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Bali, dan Radar Jogjakarta.
Di Malang, tahun 1999 masih ada biro Jawa Pos. Di mana, satu halaman Jawa Pos dipersembahkan khusus untuk informasi-informasi dari Malang Raya. Atas kebijakan Jawa Pos, satu halaman khusus Malang itu bermetamorfosa menjadi Radar Malang.
Maka jadilah Radar Malang berdiri sendiri dengan empat halaman penuh. Radar Malang kala itu digawangi oleh para wartawan senior Jawa Pos di Malang dan dibantu wartawan dari Jawa Pos Surabaya. Mereka adalah H Khariri Mahmud (Pemimpin Redaksi), Widodo Irianto (Wakil Pemimpin Redaksi), Agus Purbiantoro (Pemimpin Perusahaan), dan Usman Syahadat (Wakil Pemimpin Perusahaan). Sedang ’’bantuan’’ dari Surabaya digawangi Yulfarida (redaktur) dan Khoirul Anwar (wartawan).
Radar Malang Otonom
Setelah setahun menjadi sisipan Jawa Pos, pada April 2001 Radar Malang otonom. PT Jawa Pos Radar Timur (JPRT) yang menaungi Radar-Radar waktu itu, mengirim’’tenaga baru’’. Akhirnya Radar Malang pun menjadi koran daerah otonom. Yakni, media lokal Malang yang berhak menentukan perkembangannya sendiri.
Karena masih berada dalam satu atap dengan Jawa Pos, secara oplah, Radar Malang juga sama dengan Jawa Pos. Yakni, rata-rata 35.000 eksemplar setiap hari dan berkembang hingga kini menjadi rata-rata 40.000 eksemplar per hari. Radar Malang pun makin tumbuh pesat dengan pembaca per hari rata-rata 200.000 pembaca per hari di Malang Raya.
Struktur Perusahaan
Radar Malang berdiri dengan badan hukum terpisah dengan Jawa Pos. Di bawah manajemen PT Malang Intermedia Pers, Radar Malang mengelola diri sendiri dengan dipimpin seorang direktur. Meski begitu, secara manajemen, Radar Malang tetap mengikuti PT Jawa Pos sebagai holding company.
Ada empat departemen di Radar Malang. Yakni Departemen Redaksi, Departemen Pemasaran, Departemen Iklan, dan Departemen Keuangan-Umum. Masing-masing departemen dipimpin oleh manajer. Para manajer ini bertanggung jawab penuh pada direktur.

Selasa, 28 Desember 2010

Materi-Materi jurnalistik # 2

Mengenal Opini dan Kolom
Dalam sebuah surat kabar dikenal ada: berita, feature, tajuk, pojok, kolom, surat pembaca, iklan. Biasanya ada pula fiksi, karikatur, foto-foto. Berita dan feature adalah fakta, pojok dan tajuk adalah opini dari pengasuh koran, kolom dan surat pembaca adalah opini dari luar, iklan adalah sumber duit untuk penerbitan, sedang fiksi adalah karangan yang fiktif, bisa sebagai cerita bersambung, cerpen, dan sebagainya.
Dalam penerbitan majalah dan tabloid, keadaannya hampir sama. Mungkin majalah dan tabloid tidak ada fiksinya, kecuali majalah dan tabloid yang sifatnya hiburan, bukan majalah atau tabloid berita.
Di penerbitan majalah dan tabloid, juga jarang ada tajuk rencana, yang isinya adalah opini yang mengatasnamakan penerbitan itu. Di beberapa penerbitan, pemimpin redaksi atau redaktur senior menulis opini khusus dengan byline. Misalnya, di Forum dulu ada Catatan Hukum. Itu tak bisa digolongkan opini, karena belum tentu mewakili isi majalah tersebut. Itu lebih tepat disebut kolom. Nah, di majalah TEMPO sekarang ini ada opini. Itu betul-betul opini yang sebenarnya, karena dibuat untuk mewakili kepentingan penerbitan. Dan tidak ada byline-nya (penulisnya).
Kriteria:
Jadi apa itu opini dan kolom, sudah jelas. Opini adalah tulisan yang merupakan pendapat seseorang atau lembaga. Kolom dan surat pembaca termasuk opini. Pokoknya segala yang bukan berita disebut opini.
Dan opini ada dua: mewakili lembaga (disebut tajuk, pojok, opini -- dalam pengertian rubrik), dan mewakili perorangan (disebut kolom). Kalau dibagi lagi, kolom bisa ditulis oleh orang luar maupun orang dalam, tajuk dan sebagainya itu adalah opini yang ditulis oleh orang dalam.
Apa yang ditulis:
Baik opini maupun kolom, kedua-duanya adalah menyoroti sebuah berita aktual dengan memberi pendapat-pendapat, baik saran, solusi, kritik dan sebagainya. Kalau berita tentu tak bisa dicampuri dengan opini. Berita yang dicampur dengan opini menjadi rancu, dan mengaburkan nilai berita itu sendiri. Berita pun menjadi tidak obyektif lagi.
Karena itu sebuah tulisan yang ingin melengkapi berita itu dengan pendapat seseorang, dipesan kolom oleh sebuah penerbitan. Itu yang menyebabkan penulis kolom adalah tokoh-tokoh yang sudah dikenal dalam bidangnya. Apalagi untuk majalah. Kalau Anda belum terkenal tak bisa menulis kolom. Di koran-koran, karena terbitnya setiap hari dan membutuhkan banyak tulisan, masih bisa menerima tulisan kolom dari luar yang datang begitu saja tanpa dipesan. Tapi di majalah tidak, tulisan dipesan dan hanya orang tertentu saja yang bisa menulis.
Bagaimana menulis:
Baik kolom maupun opini ditulis dengan cara yang sangat populer dan dibatasi panjangnya. Kalau di majalah panjang kolom paling banyak 5.000 karakter, di koran umumnya sama saja, tetapi bisa sedikit lebih panjang karena bisa bersambung ke halaman lain. Anda tak bisa bertele-tele, tetapi langsung pada persoalan. Memang, kemudian dikenal ada gaya seseorang, yang tak mudah ditiru oleh orang lain. Apalagi apa yang kemudian disebut kolom khusus (misalnya Asal-usul di Kompas).
Salah satu yang penting dalam menulis opini atau kolom adalah fokus yang jelas dan sudut pandang tidak melebar ke mana-mana. Karena itu banyak pemula yang bingung, bagaimana memulainya dan bagaimana memperlakukan bahan-bahan yang ada.
Jangan mudah bingung. Periksa dulu rencana awal, sebenarnya apa sih tema yang mau anda tulis itu? Fokus ceritanya apa, lalu angle (sudut pandangnya) ke mana. Cocokkan dengan bahan/data yang Anda punya atau berita yang sudah terjadi. Apakah sudah terkumpul dan mendukung tulisan itu? Kalau belum, cari yang kurang. Kalau pas dan berlebih, siap-siaplah ditulis.
Pergunakan data atau berita yang sudah terjadi sesuai dengan kebutuhan tulisan itu. Misalnya soal-soal detail. Tak semua detail itu penting. Misalnya menyebutkan jarak sebuah desa di Aceh yang dijadikan wilayah penelitian DOM. ''Desa itu berjarak 15, 74 kilometer dari kota.....'' Pembaca malah bisa keliru kalau membacanya cepat-cepat, lima belas kilometer atau seratus limapuluh tujuh kilometer atau tujuh belas kilometer. Sebut saja angka bulat, misalnya, sekitar lima belas kilometer atau lebih sedikit dari lima belas kilometer.
Tetapi untuk hal tertentu, katakanlah kolumnis olahraga, detail itu penting. Misalnya, pertandingan sepakbola. ''Gol terjadi pada menit ke 43''. Ini tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Menit ke 43 sangat penting artinya dibandingkan menit ke 30, misalnya. Atau tulisan begini: ''Pelari itu mencapai finish dengan waktu 10.51 detik.'' Ini penting sekali bagi pembaca. Mereka akan marah kalau detail itu ternyata salah. Apakah pembaca bingung melihat angka-angka ini? Tidak, karena sebelum mereka membaca tulisan itu, mereka sudah punya persiapan apa tema tulisan itu.
Masalah Bahasa:
Bahasa Indonesia yang kita gunakan untuk menyusun artikel (baik opini maupun kolom) haruslah ''bahasa tulisan''. Yang dimaksudkan di sini adalah bukan bahasa lisan atau bahasa percakapan sehari-hari.
Namun, bahasa itu tetap komunikatif, mampu menghubungkan alam pikiran penulis dan pembaca secara lancar dan hemat kata. Agar dapat menyampaikan gagasan penulis tanpa cacat, kalimat yang disusun harus bebas dari kata-kata yang melelahkan dan kata-kata pemanis basa-basi yang biasa diucapkan orang dalam pidato yang menjemukan. Kata-kata itu bahkan sejauh mungkin harus kita hindari penggunaannya.
Selain menggunakan bahasa tulisan, juga perlu menggunakan bahasa teknis. Dan bahasa teknis menuntut penuturan yang ringkas. Dalam usaha menyusun kalimat ringkas ini, kita harus tetap ingat, jangan sampai mengorbankan kejelasan.Sebuah artikel dikatakan tidak lengkap dan tidak jelas, apabila ia tidak dapat menjawab pertanyaan pembaca lebih lanjut, seperti pertanyaan: "Berapa"? (jumlah, ukuran, umur, hasil, suhu dan lain-lain). Artikel yang lengkap tidak akan membiarkan pembaca bertanya-tanya lagi, misalnya di mana letak Ciamis tempat pembunuhan dukun santet itu. Begitu pula deskripsi seseorang, kita jangan terlalu gampang menulis ''orang itu begitu cantik setelah mengenakan pakaian pengantin''. Cantik untuk ukuran orang lain bisa berbeda-beda, maka lebih baik deskripsikan ''kecantikan'' itu. Misalnya, setelah mengenakan pakaian pengantin itu, sang gadis kelihatan lebih langsing, matanya lebih bersinar, lehernya lebih jenjang dan sebagainya. Namun, keterperincian itu tadi tetap jangan sampai terjebak pada hal-hal yang tidak perlu.Ketelitian menjadi hal penting, baik dalam penulisan kata, umur, nama orang, nama tempat dan alat, ejaan dan tanda baca. Jelas akan merosot nilai kolom itu, kalau ketelitian ini diabaikan begitu saja. Begitu pula masalah ejaan yang benar sebagaimana pedoman baku yang telah dikeluarkan Pusat Bahasa.
Di Majalah TEMPO misalnya kalau ada penulis artikel yang masih menulis kata "rubah, robah, merubah, merobah" langsung dicampakkan karena semestinya kata dasar itu "ubah", jadi harus ditulis "perubahan, mengubah, diubah". Ini contoh-contoh kecil yang perlu dicermati.Menulis kalimat, jangan terlalu berpanjang-panjang. Kalimat yang paling ideal itu adalah kalimat yang mencetuskan satu ide, satu gagasan. Kalimat yang lebih dari satu ide dan satu gagasan akan membuat kabur, lebih-lebih kalau penempatan kata penghubung dan koma dikacaukan. Misalnya kalimat ini: "Iwan, bapak seorang anak yang baru saja diwisuda sebagai insinyur...." tak jelas benar, siapa yang lulus insinyur itu, Iwan atau anaknya? Ini hanya karena penempatan koma. Kalau ditulis: "Iwan, bapak seorang anak, yang baru saja lulus insinyur..." yang lulus insinyur jelas Iwan, bukan anaknya. Atau: "Iwan, bapak dari seorang anak yang baru saja lulus insinyur, meninggal dunia..." yang lulus insinyur anaknya, yang meninggal bapaknya.Demikian beberapa hal tentang opini dan kolom. Jenis tulisan ini tak bisa diajarkan secara teori, karena memang tak ada teorinya. Tulisan ini menyangkut wawasan dan pengalaman. Semakin lama "jam terbang" seseorang semakin baik tulisannya.
________________________________________

100 fakta

by:  Fitri Aulia

100 fakta:
1.      Saya bangun jam 5 pagi
2.      Saya memakai rok jeans biru tua
3.      Saya menenten buku besar
4.      Saya berangkat bersama bebrapa mahasiswa cewek
5.      Ada pedagang nasi menjajakan jualannya di sekitar jalan
6.      Beberapa kendaraan terlihat lalulalang
7.      Ada beberapa mahasiswa yang bersepeda saat berangkat ke kampus
8.      Beberapa warung makan masih terlihat belum buka
9.      Pedagang buah di samping  penyebrangan jalan belum parkir di tempat biasa
10.  Kendaraan saling bersahut-sahutan membunyikan klakson
11.  Saya keluar rumah melalui pintu gerbang depan
12.  Beberapa mahasiswa terlihat setengah berlari melintasi pintu gerbang kampus
13.  Kendaraan saling bersahut-sahutan membunyikan klaksonnya
14.  Beberapa mahasiswa terlihat asik memainkan ponselnya
15.  Jalan di belakang kampus semakin sesak dengan kerumunan kendaraan yang melintas
16.  Pedagang  nasi pecel di seberang jalan terlihat siap menjajakan dagangannya
17.  Terlihat bebarapa dosen berangkat bersamaan dengan mahasiswa
18.  Jum’at pagi jalanan terlihat becek akibat hujan semalam
19.  Semua mahasiswa mengenakan sepatu
20.  Beberapa mahasiswa ada yang tidak berkaos kaki
21.  Semua mahasiswa cewek membawa tas
22.  Beberapa mahasiswa cewek mengenakan tas rangsel
23.  Beberapa mahasiswa berkendara motor yang hendak keluar kampus sibuk menunjukkan STNK pada satpam
24.  Satpam mengenakan baju seragam berwarna biru tua
25.  Seluruh satpam memakai sepatu berwarna hitam
26.  Mahasiswa cewek mengenakan jilbab berwarna-warni
27.  Semua mahasiswa mengenakan jilbab
28.  Semua mahasiswa cowok memakai celana
29.  Tidak semua mahasiswa cowok memakai celana jeans
30.  Mahasiswa memasuki kampus melalui pintu gerbang
31.  Cleaning servis melakukan tugasnya
32.  Saya berjalan melewati depan masjid
33.  Beberapa mahasiswa mengenakan jaket pada hari jum’at
34.  Saya menggunakan rok putih pada hari jum’at
35.  Beberapa mahasiswa terlihat kesulitan membawa barang
36.  Mahasiswa cowok duduk di sisi kanan dan mahasiswa cewek duduk di sisi kiri
37.  Kampus masih sepi pada pukul 07.00 pada hari jum’at
38.  Perkuliahan kelas A dimulai pukul 07.00 pada hari jum’at
39.  Dosen mata kuliah kewirausahaan terlambat 30 menit
40.  Beberapa mahasiswa datang terlambat
41.  Beberapa mahasiswa mempresentasikan makalahnya
42.  Ada dua pemateri dan satu moderator
43.  Ada tempat sampah di belakang ruang kelas
44.  Ada withboard di depan kelas
45.  Ada LCD tergantung di kelas
46.  Pemateri yang akan presentasi mengeluarkan laptop dari dalam tasnya
47.  Dosen duduk di bangku terdepan
48.  Beberapa kursi kayu tertata rapi di kelas
49.  Ada beberapa mahasiswa masih terlihat mengantuk
50.  Beberapa mahasiswa duduk di depan kelas
51.  Beberapa mahasiswa duduk sambil saling berbicara
52.  Dua orang mahasiswa duduk di pojok ruangan
53.  Ada tiga mahasiswa duduk bersandingan sambil menatap laptop di pangkuannya
54.  Ruang-ruang kelas terlihat masih kosong
55.  Lantai ruang kelas telah dibersihkan oleh cleaning servis
56.  Satu persatu dosen berdatangan
57.  Beberapa menit menunggu akhirnya dosen yang ditunggu datang juga
58.  Para mahasiswa yang menunggu di depan kelas berbondong-bondong memasuki kelas
59.  Kampus masih sepi pada pukul 07.00 pada hari kamis
60.  Perkuliahan kelas B dimulai pukul 07.00 pada hari sabtu
61.  Dosen mata kuliah kewirausahaan terlambat 30 menit
62.  Beberapa mahasiswa datang terlambat
63.  Beberapa mahasiswa mempresentasikan makalahnya
64.  Ada dua pemateri dan satu moderator
65.  Ada tempat sampah di belakang ruang kelas
66.  Ada withboard di depan kelas
67.  Ada beberapa mahasiswa masih terlihat mengantuk
68.  Beberapa mahasiswa duduk di depan kelas
69.  Beberapa mahasiswa duduk sambil saling berbicara
70.  Dua orang mahasiswa duduk di pojok ruangan
71.  Terlihat bebarapa dosen berangkat bersamaan dengan mahasiswa
72.  Jum’at pagi jalanan terlihat becek akibat hujan semalam
73.  Semua mahasiswa mengenakan sepatu
74.  Dua orang mahasiswa duduk di pojok ruangan
75.  Ada tiga mahasiswa duduk bersandingan sambil menatap laptop di pangkuannya
76.  Ruang-ruang kelas terlihat masih kosong
77.  Beberapa mahasiswa mempresentasikan makalahnya
78.  Jum’at pagi jalanan terlihat becek akibat hujan semalam
79.  Semua mahasiswa mengenakan sepatu
80.  Beberapa mahasiswa ada yang tidak berkaos kaki
81.  Semua mahasiswa cewek membawa tas
82.  Dosen memakai sepatu hijau
83.  Ada dua pemateri dan satu moderator
84.  Ada tempat sampah di belakang ruang kelas
85.  Ada beberapa mahasiswa yang bersepeda saat berangkat ke kampus
86.  Beberapa warung makan masih terlihat belum buka
87.  Pedagang buah di samping  penyebrangan jalan belum parkir di tempat biasa
88.  Suasana jum’at pagi mendung
89.  Udara jum’at pagi terasa dingin
90.  Dedaunan terlihat hijau
91.  Dedaunan terlihat basah terkena sisa hujan semalam
92.  Gedung-gedung terlihat sepi
93.  Beberapa mahasiswa berjalan menuju masjid
94.  Clining servis duduk-duduk sambil menjaga kunci ruangan
95.  Mahasiswa terlihat bertransaksi dengan
96.  Pak satpam menjaga pos satpam
97.  Dosen dating dengan menenteng tas yang berisi laptop
98.  Beberapa dosen memarkir mobilnya
99.  Ada beberapa mahasiswa yang memarkir motor di depan gedung perkuliahan
100.   Mahasiswa sibuk mendiskusikan pembagian kelompok di depan kelas

Features orang # 3

Narasi Ketimpangan Pembangunan
Oleh: Mukhlashyn

Indonesia memiliki banyak pulau dari yang terkecil hingga pulau terbesar seperti; pulau Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Jawa, dan Sumatra. Pulau-pulau ini mempunyai banyak penghuni dan penduduk. Seperti yang dilaporkan oleh M. Masud Said, Wakil Ketua Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki 13.000 pulau.

Akhir September 2009 tahun lalu saya pergi untuk menggunjungi salah satu pulau terbesar di Indonesia, pulau Sumatra. Pulau ini berdekatan dengan Jawa. Hanya saja dibatasi oleh selat Sunda. Untuk sampai ke sana bisa naik alat transportasi udara, pesawat dan alat transportasi darat seperti bus. Jangan mengharap ada transportasi darat selain bus. Karena di sana belum ada Kereta api penghubung Sumatera-Jawa. Jangan pula berharap ada jembatan yang menghubungkan kedua pulau tersebut layaknya jembatan Suramadu di Surabaya, karena di sana belum ada jembatan penghubung, meskipun pada zaman Orde Baru rencana pembangunan jembatan sumatera-jawa pernah digembar-gemborkan.
Untuk menyeberang ke pulau sumatera, masih menggunakan alat tranportasi air, kapal Feri. Di dalam kapal Feri terasa sesak. Bangku penuh. Beberapa penumpang tidak mendapat tempat duduk.
Ketika kapal hendak merapat di Pelabuhan Bakauheni, saya hanya bisa bernafas lega dan menyaksikan kekaguman yang luar biasa. Pemandangan di sana indah, hijau. Hutan terbentang luas, begitu juga dengan kebun-kebunnya. Rumah-rumah penduduknya jarang yang berdekatan atau berdampingan seperi hal nya di kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Jakarta.
Keadaan alam dan pembangunan di pulau andalas tersebut hampir seragam. Mulai dari Lampung, Palembang, dan Jambi yang berhutan agak tandus.
Ketika memasuki daerah palembang, dari dalam bus hanya terlihat hutan dan kebun-kebun, tapi disana lebih banyak terdapat hutan. Kebun di sana lebih dominan ditanami kelapa sawit, coklat, dan karet. Pohon-pohon besar di kiri-kanan jalan sepanjang perjalanan memberi kesan tersendiri. Karena di Jawa tempat saya tinggal jarang terlihat pohon-pohon besar seperti yang ada di Palembang. Pembangunan-pembangunan di daerah ini tampaknya belum berjalan secara maksimal. Padahal pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah sudah efektif pada 2001 lalu.
Perjalanan satu Propinsi ke Propinsi lain ditempuh berjam-jam. Jalanya berkelok kelok. Bergunung-gunung dan berlembah. Memasuki daerah Jambi, kondisi yang sama masih saya temui. Namun, di jambi keadaan jalananya sedikit berbeda. Jalan disana tak berkelok-kelok seperti di Palembang, hanya lurus hingga berpuluh-puluh kilometer.
Memasuki daerah muara bungo, kondisi jalan ke rimbo Bujang, salah satu kecamatan di kabupaten Tebo banyak yang rusak. Pembangunan di sana pun masih belum berkembang seperti daerah-daerah yang ada di Jawa dan Jakarta.
Di Rimbo Bujang, masih banyak desa-desa yang belum diaspal. Berbeda sekali kondisinya jika dibandingkan dengan jalan-jalan yang ada di Jakarta dan desa-desa yang ada di pulau Jawa. Jalan-jalan di daerah pulau Jawa, terutama Jakarta rapi dan tertata dengan baik, tak seperti di Rimbo Bujang ini.
Di Jakarta, kita dengan mudah menjumpai gedung-gedung bertingkat, menjulang ke langit. Sarana transformasi banyak, mulai berbagai merek taxsi hingga bus antarkota. Untuk cepat sampai di tujuan bisa naik kereta api. Untuk mempermudah pengguna jalan kaki dibangun jembatan layang-layang guna penyeberangan. Mau apa pun ada, dan mudah didapat.
Di ibu kota Indonesia itu, semua bangunan dan gedung berdekatan. Gedung DPR, MPR di Senayan, Istana Negara, kantor Sekretaris Negara, kantor BUMN hingga kantor pusat kepolisian dan kantor Badan Inteligensia Negara dan kantor-kantor perdagangan lain, meskipun ada perusahaannya di luar Jakarta. Ini menandai keuangan mayoritas hanya berputar di Jakarta. Tidak heran orang berbondong-bondong pindah dan mencari kerja ke Jakarta.
Kondisi ini tentu tak dapat dibandingkan dengan kecamatan Rimbo Bujang yang hanya merupakan salah satu daerah ”pinggiran” di Indonesia. Tetapi, jangan coba-coba membandingkan kekayaan alamnya. Kecamatan yang ditenggarai salah satu kecamatan terluas di Indonesia ini merupakan salah satu daerah penghasil karet terbesar –yang hasil karetnya sebagian besar di boyong ke Jakarta dan Tangerang, karena di sana belum ada pabrik pengolahan karet—di Jambi.

DI SUATU PAGI, sinar mentari mulai beranjak naik dari balik bukit di Kampung Dalam. Sawah-sawah yang menguning terlihat seperti taburan pasir emas di hamparan belakang rumah yang saya tumpangi. Pohon sawit dan kelapa mengitari desa Kampung Dalam. Udara segar nampak masih bersih di pagi hari. Polusi udara hampir tak ada.
Perjalanan dari Rimbo Bujang ke desa ini menghabiskan waktu kurang lebih 10 jam. Untuk mencapai desa ini saya harus menumpangi mobil Mitsubishi L300 angkutan pedesaan Pariaman-Basung. Sebab, Mobil bus yang saya tumpangi dari Jakarta berhenti di Pariaman, salah satu kabupaten di Sumatera Barat.
Jarak dari kota desa kampung dalam dan kota padang tidak begitu jauh. Kira-kira butuh waktu sekitar dua jam perjalanan tanpa diselingi macet. Jalanan dari pariaman ke kampung dalam cukup berbelok belok. Kondisi jalanya sudah layak, jika dibandingkan dengan kecamatan Rimbo Bujang.
“Selama saya jadi wali Nagari ini, baru tiga program yang terealisasi. Salah satunya ini pengaspalan jalan sampai ke kampung dalam ini,” kata Fabet Effendi, Wali Nagari Campago Pariaman sambil menunjuk jalan beraspal di depan rumahnya.
Pariaman salah satu tempat yang terkenal dengan adat Minangkabaunya. Begitu juga di desa Pasar Kampung Dalam ini. Pada saat saya berada di sana, salah satu penduduk warga kampung ini sedang merayakan pesta pernikahan. Pernikahan tersebut sarat adat Minangkabau. Ada tenda yang cukup besar. Lampu Kelap-kelip menghiasi ruangan. Di pelaminan terlihat kedua mempelai memakai baju kebesaran ala Minangkabau. Mempelai pria memakai mahkota lambang tanduk kerbau, sedangkan mampelai perempuannya menggunakan mahkota kebesaran warna keemasan.
Salah satu pekerjaan utama suku Minangkabau ialah berdagang. Orang Minangkabau menegakkan ‘dinasti perdagangan kota’ mereka dimulai sejak awal abad ke dua puluh. Namun, mereka menghadapi suatu tantangan besar dari orang-orang Cina yang memperoleh dukungan penuh dari pemerintah kolonial. Belanda menghendaki orang Cina untuk memonopoli perdagangan menengah supaya bisa menjadi perantara antara penduduk berkebangsaan Eropa dengan penduduk asli (Skinner, 1973:404).
Dengan memanfaatkan kebijakan Belanda, orang-orang Cina berhasil menahan suku Minangkabau pada perdagangan kecil. Setelah kemerdekaan, ketika Belanda terpaksa meninggalkan Indonesia, ornag-orang Cina bergerak memasuki sektor-sektor perekonomian yang tadinya didomonasi oleh belanda, kecuali perkebunan, yang diambil alih menjadi perusahaan-perusahaan negara.

MERANTAU ATAU PINDAH tempat tinggal sudah menjadi siklus yang tidak akan mati di Indonesia. Orang minangkabau memang suka merantau. Menurut kato (1982:82), perubahan besar dalam tradisi merantau suku Minagkabau ini terjadi setelah Perang Dunia II. Biasanya seorang suami pergi merantau terlebih dahulu baru kemudia mendatangkan istri serta anak-anaknya. Kebanyakan mereka hidup di kota-kota besar seperti; Medan, Bandung, Surabaya, dan Jakarta.
Menurut Lekkerkerker (1916:207), bahwa perantauan oleh kelompok etnik Minangkabau adalah satu cara guna melepaskan diri dari kungkungan adat matrilinial. Kato (1928:243), mendukung pendapat Lekkerkerker, mengatakan ”Banyak dari mereka yang tidak merasa cocok dengan cara hidup matrilini kemudian pergi merantau.”
Di jakarta, bisnis tekstil merupakan salah satu pilihan orang minang. Cara melaksanakan bisnis ini memberikan gambaran jelas bagaimana pada umumnya manajemen bisnis orang minagkabau di daerah urban.
Siang itu September 2009. Sebuah papan nama bertuliskan ”BAGINDO menyediakan perlengkapan busana Muslimah, Anak-anak, dan Batik” tergantung di pojok atas salah satu toko di ITC Cipulir Mas, Jakarat Selatan. Toko yang dibuka mulai pukul delapan pagi hingga menjelang salat Isya itu menghadap ke arah Barat. Saat itu pembeli silih berganti. Ramai menawar harga baju di toko itu.
“Ada baju batik gak?” tanya dua pembeli wanita
“Oh ya ada,” sahut suara dari dalam toko itu
“Aku mau beli sekodi warna hijau pucuk pisang kalau ada,” pinta pembeli
“Tolong ambilkan di sebelah sana,” suruh Nasirman pada anaknya sambil menunjuk ke tokonya
yang ada di sebelah. Anak perempuannya pergi mencarikan baju yang diinginkan pembeli.
“Dari mana? Dari Skodam ya”, tanya Nasirman, pria kelahiran Padang Pariaman.
“Kemarin ada pembeli dari skodam, orang-orang kantor, dan juga tentara.”
“Ngapain mereka?” tanya pembeli.
“Mereka mau pesan satu kodi baju batik.”
Saat itu, pemerintah daerah Jakarta mewajibkan masyarakat pegawai negeri memakai baju batik.
“Ini mirip yang tadi, hanya saja warna berbeda tapi motifnya tidak jauh beda,” cerita anak
perempuan Nasirman.
“Yang itu jadul tidak bermotif,” suara anak Nasirman menunjuk kain baju yang dipegang pembeli.
“Kalau mau bawa aja,” kata Nasirman.
“tak kasih tahu, bahan yang itu tipis jangan dibeli, kasihan yang beli”, ibanya
“Ini bahan dari saten,” kata anaknya untuk memberitahu.
“Bahan Saten berbeda, bahanya tipis. Kalau sekali dicuci cepat luntur,” ujar Nasirman memberi
tahu baik dan buruk beberapa merek dan bahan baju yang ia jual.
“Di sini bebas–bebas saja. Kalau cocok dibawah kalau tak cocok boleh dikembalikan,” tegasnya.
“Ntar mau ditukar juga ngak apa-apa”, tambahnya.
Nasirman adalah salah satu dari sekian ribu perantau yang menggadu nasib di Jakarta. Ia bersama istrinya empat anaknya sudah menetap di Jakarta sejak tahun 1980an. Empat orang anaknya tumbuh besar dan bersekolah di kota yang di-ibu-kan oleh masyarakat Indonesia ini.
Anak Nasirman yang pertama sudah menikah dengan gadis Betawi. Menantunya juga ikut membatu menjualkan barang dagangannya. Kini ia memiliki empat toko di ITC Cipulir Mas. “Sembilan puluh persen pedagang yang ada di Cipulir berasal dari Padang,” cerita Nasirman di depan tokonya lantai dua.
Karena waktu itu momen bulan puasa, ia dan empat orang anaknya menutup toko mereka pada pukul delapan malam. Berpindahnya Nasirman ke kota Jakarta disebabkan peluang ekonomi yang rendah di kampung halamannya.


KETIMPANGAN EKONOMI ANTARA daerah di Sumatera dan Jakarta secara tak langsung membuat etos kerja warga minang meningkat. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mohctar Naim, pada tahun 1971 jumlah perantau minang mencapai 44 %. Berdasarkan sensus tahun 2000, suku Minang yang tinggal di Sumatera Barat hanya berjumlah 3,7 juta jiwa. Angka ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan perkiraan 7 juta orang Minang di seluruh dunia. Yang berarti, sekitar 65% warga minang meninggalkan kampung halamannya untuk merantau.
Jakarta tak hanya menjadi “lahan basah” bagi perantau minang, tapi juga menjadi kota “impian” pengubah nasib bagi perantau yang berasal dari seluruh nusantara. Hal ini bisa dilihat dari jumlah arus balik mudik versi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Pemprov DKI Jakarta tahun 2000-2002 menunjukkan terjadi peningkatan signifikan jumlah arus balik Pascalebaran.
Rinciannya: Tahun 2000, arus balik mencapai 2.416.452 jiwa dari jumlah arus mudik yang berjumlah 2.159.729 jiwa. Tahun 2001, arus balik mencapai 2.507.255 jiwa dari jumlah arus mudik 2.372.069 jiwa. Sementara tahun 2002, jumlah arus balik 2,85 juta jiwa dari jumlah pemudik yang mencapai 2,6 juta orang.
Melihat perbandingan antara rasio arus balik dan arus mudik, diperkirakan pertambahan penduduk Propinsi DKI Jakarta rata-rata per tahun pasca-lebaran mencapai 9,24 persen. Catatan Pemprov DKI Jakarta juga menunjukkan, sekitar 32.0000 pencari kerja baru akan memasuki DKI Jakarta bersama 3,2 juta pemudik Pascalebaran 2009 ini. Kaum urban ini umumnya sekadar ingin menjadi kuli bangunan, penjual bakso, penjaja es keliling, penjual sayuran, penjual jamu gendong, pembantu rumah tangga, atau pedagang kaki lima.
Sementara itu, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), laju angka urbanisasi diprediksi terus meningkat. Pada tahun 2025 rata-rata tingkat urbanisasi nasional diperkirakan mencapai 68 persen (di Jawa dan Bali persentasenya bahkan mencapai 80 persen). Dari 35 juta penduduk miskin saat ini, 22 juta ada di desa, sementara 12,8 juta sisanya berada di perkotaan. Dari 10 juta penganggur terbuka, 4,4 juta penganggur ada di pedesaan. Dari sekitar 65.554 desa di Indonesia, 51 ribu desa merupakan desa tertinggal, dimana 20.633 di antaranya tergolong desa miskin.
Ini menandakan Jakarta dinilai sebagai kota yang menjanjikan untuk merubah nasib. Dari miskin menjadi kaya, dari “tak” berkelas menjadi “ber” kelas, dari pengangguran menjadi pekerja. Tak hanya itu, pola urbanisasi ini sekaligus menjadi ciri khas buruknya pertumbuhan ekonomi di daerah dan desa-desa. Tak terkecuali daerah-daerah dan desa-desa yang ada di Sumatera. Pola ini juga menjadi simbol pemusatan pembangunan dan perekonomian di Indonesia, yang secara tak langsung ikut membuat ketimpangan kelas sosial dalam masyarakat.
Makanya tak heran, daerah-daerah dan kota-kota di pulau Jawa –terutama ibu kota Jakarta— banyak diincar oleh perantau yang berasal dari daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan NTT. Karena memang di Pulau Jawalah pembangunan dan perekonomian berkembang pesat dan tetap. Ada gula, ada semut. Di mana ada pembangunan, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan kemudahan akses teknologi, di situ pula banyak perantau yang datang dari penjuru Indonesia untuk mengadu nasib.
Ketimpangan pembangunan dan perekonomian ini tak hanya berdampak pada pola urbanisasi saja, namun juga berpotensi melahirkan sinisme dan kecemburuan sosial di masyarakat Indonesia. Bahkan ketimpangan ini dapat berujung pada upaya suatu daerah atau kota memerdekakan diri. Kasus Aceh misalnya. Menurut Fabet Effendi, keinginan Aceh untuk Merdeka disebabkan ketimpangan pembangunan dan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah. Gas alam yang merupakan salah satu penunjang kekayaan Indonesia sebagian besar berasal dari Aceh. “Makanya tak heran jika Aceh ingin merdeka,” cerita pria beranak dua ini.
Beberapa faktor pemberontakan di Aceh dipicu karena kebijakan centralistik, dan pencabutan izin pelabuhan Sabang di zaman Soeharto. Bahkan ada joke, untuk membeli satu kertas pun harus izin dari Jakarta, tulis Andreas Harsono di majalah Pantau tahun 2003.
Pemberontakan warga Aceh nampak paling serius sesudah Indonesia kehilangan Timor Timur. Dalam sejarahnya, keikutsertaan warga Aceh bergabung dengan Indonesia, karena Soekarno berjanji memberikan status otonomi kepada warga Aceh. Warga aceh percaya, akhirnya berbondong-bondong menyumbangkan harta dan perhiasan mereka untuk beli dua pesawat terbang pertama kali untuk Indonesia. “Tapi Soekarno tidak menempati janjinya,” tulis Harsono.
Di banyak media sering diberitakan konflik-konflik seringkali bermunculan. Mulai konflik aceh hingga konflik Papua. Fenomena ini disebabkan oleh kecemburuan sosial pembangunan yang tidak merata antara daerah satu dengan daerah lainnya di Indonesia. Ketidakadilan dalam pembangunan ini dapat mengancam integrasi republik ini, jika tak ditangani secara serius oleh pemerintah.

TAK HANYA DI SUMATERA, pembangunan di daerah perbatasan lebih menyedihkan. Seperti perbatasan Malaysia dengan daerah Kalimantan bagian utara, selangor dan perbatasan Papua dengan Papua Nugini. Hal semacam ini ditenggarai karena kurangnya perhatian pemerintah dan kurangnya subsidi yang diberikan serta ketidakadilan di segala bidang.
Hidup di daerah perbatasan akan mempengaruhi budaya dan kebangsaan Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh M. Masud Said wakil ketua Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia (MIPI) dalam salah satu penelitaian yang disampaikan dalam “Seminar Nasional: Demokrasi dan Nasionalisme” di malang pada 20 Juni 2010 lalu. Dalam kesempatan tersebut ia menyatakan sebagian besar penduduk Indonesia yang hidup di daerah perbatasan berbahasa melayu Malaysia, adat pakaiannya dan mata uang Malaysia. “Kami tidak kenal yang namanya nasionalisme maupun demokrasi. Yang kita kenal, ialah bagaimana kita bisa hidup dan bagaimana besok bisa makan,” kata Masud Said menirukan ucapan salah satu penduduk Selangor.

PADA TAHUN 2004 hingga 2009 terjadi ketimpangan ekonomi di wilayah Sumatera. Padahal, tahun 2004 Sumatera memberi kontribusi perekonomian Indonesia sebesar 22%. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan wilayah Jawa yang justru naik 1% dari 59,7% menjadi 60,7%.
“Ketimpangan itu menunjukan pemerintah pusat masih lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan di Jawa daripada daerah-daerah lain yang notabene juga penyumbang devisa negara,” kata Jhon Tafbu Ritonga, Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Sumatera Utara (USU).
Lebih lanjut Jhon mengungkapkan, ketimpangan ekonomi dan disparitas ekonomi antara Jawa dan luar Jawa, bukan tak mungkin menyebabkan disintegrasi bangsa. Ia menghimbau pemerintah melakukan langkah-langkah startegis, salah satunya pembangunan infrastruktur. Misalnya, dalam waktu lima tahun ke depan harus sudah dibangun jalan dari Aceh hingga Lampung yang mempunyai kualitas setara dengan jalan tol.
“Saat ini banyak peresmian pembangunan di Jawa, di luar Jawa seakan tak ada dan pemerintah selalu memberikan janji manis, seperti pembangunan jalan tol Medan-Tebing Tinggi,” lanjut Jhon Tafbu Ritonga.

BAGI WARGA ACEH perjuangan belum selesai. Warga butuh keadilan yang merata seperti yang ada di Jakarta, dan kota kota besar lain yang ada di Indonesia. Begitu juga yang ada di Sulawesi dan Papua. Menurut M. Masud Said, permasalahan bangsa ini banyak dan beragam. Diantaranya; masalah pemilu, disintegrasi, ketertundukan pada politik dan ketidakadilan pembangunan yang kurang merata.
Kebanyakan kekayaan Indonesia ada di luar pulau jawa. Papua ada tambang emas, tapi rakyat papua tidak merasakan hasil kekayaanya. Begitu juga di daerah Indonesia lainnya yang merasakan ketimpangan dan ketidakadilan yang disebabkan sistem politik ekonomi warisan ORBA ini.[]