Selasa, 28 Desember 2010

Materi-Materi jurnalistik

Menulis di Media Massa
Oleh Khoirul Anwar

Batasan
Kata menulis di sini kita batasi dengan menulis artikel ilmiah populer di media massa. Bukan tulisan dalam bentuk berita/informasi, puisi, cerpen, novel, dkk.

Mengapa menulis di media sulit?
Media, terutama Koran, sangat banyak menerima artikel dari luar. Rata-rata 10-30 artikel per hari. Misalnya Jawa Pos (25-30 artikel per hari), Kompas (30 ke atas), Republika (15 artikel), Radar Malang (5 artikel), dll. Karena banyaknya pengirim, maka persaingannya sangat tinggi.

Apakah bukan berarti tidak bisa ditembus?
Bisa. Tapi harus tahu trik dan tipsnya.

Caranya?
1. Cari tahu karakteristik media yang akan Anda kirimi artikel.
2. Cari momen yang tepat saat Anda mengirim artikel.
3. Cari tahu bagaimana media menerima artikel dari luar
4. Pelajari seperti apa model artikel yang diterima yang akan Anda kirimi.

Seperti apa karakteristik media?
Media memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan itu terkait misi dan segmen media. Contoh: Jika Anda mau mengirim artikel keagamaan, jangan kirim ke Jawa Pos. Karena Jawa Pos suka artikel actual karena Jawa Pos berbasis umum. Kirimlah ke Republika atau media yang berbasis agama.
Jadi sekali Anda keliru mengirim ke media yang tidak sesuai dengan misi tulisan, maka akan sangat sulit menembus media itu.

Seperti apa momen yang tepat mengirim artikel?
Media massa menyukai momen dan aktualitas. Maka dari itu perhatikan momen, karena itu sangat penting. Dengan mengetahui momen, Anda akan bisa dengan cepat menentukan akan menulis artikel model apa.

Apa saja model artikel itu?
1. Artikel situasional
2. Artikel aktualitas
3. Artikel getaran
4. Artikel misi

Bagaimana media menerima artikel dari luar?
Biasanya media menunjukkan cara bagaimana orang luar mengirim artikel. Ada banner atau disclaimer yang dibuat media tersebut. Lakukan apa permintaan dalam disclaimer media itu.


Dari sisi penulis, apa yang harus diperhatikan?
Media sangat memperhatikan kapabilitas penulis. Karena itu jika Anda ingin artikelnya diterima, maka kapabilitas harus diperhatikan. Jika Anda ahli hokum menulislah hukum, dll.

Bagaimana memulai menulis?
Ada tiga masalah klasik yang dihadapi penulis. (1) Tidak punya ide menulis, (2) sudah punya ide tapi tak bisa memulai, dan (3) sudah bisa menulis tapi di tengah jalan macet. Karena itu tiga masalah klasik ini harus dipecahkan dulu.

Mau menulis ide buntu, bagaimana membukanya?
Berpikirlah peka terhadap hal-hal yang aktual, kedekatan, getaran kuat, ketokohan, situasional, sensasional, human interest, dan sesuatu yang baru. Karena itu banyak baca merupakan kewajiban bagi penulis.

Bagaimana memulai menuliskan ide?
- Jangan takut memulai menulis.
- Mulai dari hal-hal ringan. Misalnya kutipan (langsung atau tak langsung), pertanyaan, atau data-data ringan.

Bagaimana mengatasi kemacetan menulis?
Menulis itu sebenarnya menjalankan segitiga pemikiran. Ide-Pertanyaan-Jawaban. Maka, jika berhenti pertanyakan dan jawablah kembali ide awal Anda.

Apakah menulis harus ada outline?
Bisa juga, bisa juga tidak. Terserah. Tapi yang terpenting menulis itu harus mengalir.

Kok sulit ya?
Menulis artikel itu mudah. Jika Anda bisa bicara, maka Anda pula bisa menulis.


* Penulis adalah pemimpin redaksi Radar Malang

Teropong Kampus #2

PENJUAL “TEH NDA” MASUK KAMPUS
Oleh : Nurlyta Virlyani

Beberapa mahasiswa yang melintas di lobi gedung B, dikejutkan dengan berdirinya stand minuman teh Nda di bawah tangga yang terletak di depan kantor bersama. Menurut keterangan salah satu ibu satpam yang sedang bertugas, ia sudah melihat stand itu berdiri sejak senin 15 November 2010. Tapi karena hari itu sedang libur menjelang Hari Raya Idhul Adha. Maka ditunda sampai jum’at 19 November2010. Selain di gedung B, dijumpai satu stand lagi di depan SC. Pemilik dari stand ini adalah Fitria Dina Riana. Setiap stand menjual berbagai macam minuman berjenis teh.
Menurut Jaiz Kumkelo selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan; orang yang berjualan di sekitar kampus adalah yang sudah memenuhi system persyaratan. Namun lebih detail beliau menyatakan tidak memahami system perijinan penjual Teh Nda ini. karena dari pengakuannya bukan kuasa beliau. Sama halnya dengan Pernyataan A. Heru Achadi Hari selaku kabag Umum, “ yang saya tahu hanya tentang KOPMA dan Kantin. Untuk masalah dua penjual minuman di gedung B dan SC saya tidak ada sangkut pautnya”. Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa yang memiliki wewenang tentang permasalahan ini adalah para pimpinan atasan. ”Setahu saya, penjual itu berkaitan dengan pimpinan birokrasi dan PR2, mungkin sudah diizinkan Rektor”, tambahnya.
Menurut memo yang diterima oleh pihak perusahaan “The Nda” dari pihak birokrasi –yang jadi landasan perizinan buka stand di wilayah kampus UIN—. “Harap konter The Nda dapat ditolerir penempatannya karena sudah ada kontrak dengan rektor”. Memo yang di bawah tanda tangannya tertera nama terang Dra. Cholidah selaku Ka. Biro Adm. Umum ini tertanggal 15 November 2010.
Namun setelah ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan, Cholidah mengaku tidak pernah ikut campur dalam perizinan tersebut. “Yang mengizinkan itu Pak Rektor, semua yang berkaitan dengan kampus ini harus diizinkan Rektor, termasuk penjual teh tersebut”, ujar Cholidah. Beliau sebagai Kepala Biro Administrasi Umum hanya bertugas untuk mengecek sistem saja. “saya hanya mengecek system, kalau system perizinan sudah benar, saya setujui, tapi kalau masih belum lengkap maka perizinan tidak akan saya setujui”. Ujarnya.

Teropong Kampus

TK2 Butuh Home Theatre
Oleh: Asri Aisyah El Zahra & M. Roihan Rikza

Sabtu sore (12/11) sepulang PKPBA, para mahasiswa yang melintas di sekitar gedung A dan gedung B terkejut oleh aksi tarian dan olah vokal yang digelar oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang tidak mengenakan jilbab. Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata sekelompok ini adalah binaan teater TK2. Efendi (yang lebih akrab disapa Boceng) selaku Ketua Teater Komedi Kontemporer (TK2), berpendapat tidak bisa memaksa mereka dalam hal tersebut. “Sebenarnya kami tidak ingin menggunakan pelataran gedung B sebagai tempat latihan, tapi tidak adanya ruang latihanlah yang memaksa kami berlatih disini.”
Sebenarnya sejak tahun 1990-an, proposal permohonan ruangan sudah diajukan berkali-kali, namun tidak membuahkan hasil hingga saat ini. Hanya janji-janji kosong saja yang didapatkan. Tak hanya itu, dia juga menyampaikan keluhan tentang larangan penggunaan Home Theatre Fakultas Humaniora dan Budaya, yang notabene merupakan tempat yang tepat untuk pementasan. “Perizinan hanya diberikan sekali, namun selanjutnya tidak diperbolehkan lagi,” jelas mahasiswa PAI semester 9 ini.”Padahal pementasan di SC jelas tidak kondusif, suara menggaung dan tidak sampai ke penonton di belakang. Alternatif outdoor tidak jauh beda, pernah saat cuaca buruk acara diundur sampai hujan reda, sehingga penonton hanya berasal dari komunitas saja. Hal ini sangat menyulitkan kami.”
Sementara bagian kemahasiswaan sendiri tak mau berkomentar banyak. Saat ditanya masalah pengelolaan ruangan di UIN Maliki Malang, Jaiz, selaku Kabag Kemahasiswaan memilih tutup mulut. Dia tak memberikan komentar apapun terkait hal tersebut.
Karena berlabel islam, UIN Maliki Malang menjadi kawasan yang asing bagi para kaum perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Meski tidak selalu, cibiran dan beberapa pendapat miring kerap dikeluarkan para mahasiswa yang menjunjung tinggi peraturan tak tertulis ini. “Awalnya saya negative thinking melihatnya. Tapi meskipun begitu, dalam hati saya yakin bahwa mereka bukan mahasiswa UIN”, papar Nurul Hidayati, salah satu mahasiswi jurusan Akuntansi.
Dari pengakuan Boceng, TK2 memang sering menerima permintaan dari beberapa sekolah untuk melatih pementesan. ”Anak-anak ini berasal dari SMA 3 Pasuruan, dan kami diminta membantu melatih mereka untuk persiapan festival yang akan diselenggarakan Universitas Negeri Malang (UM) pada hari Minggu (14/11),” “Hal semacam ini tidak hanya terjadi sekali, pernah juga siswa dari Blitar, bahkan STAIN Jember mengajukan permintaan bantuan latihan bersama kami,” sambungnya.
Dia menjelaskan bahwa Teater K2, yang didirikan 18 Agustus 1986, disebut merupakan wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakat dalam bidang kesenian. Hal ini, sebagaimana selalu disinggung dalam materi Tarbiyah Ulul Albab (TUA) merupakan salah satu fokus utama UIN Maliki Malang. Berkali-kali juga disebutkan bahwa UIN Maliki Malang sangat menekankan pengembangan seni. Namun ternyata realita yang didapati tak seindah tampaknya.[]

Penguasa di atas penguasa

Kelanggengan Sang Penguasa
Oleh. Fitri Aulia

Secara fungsinal, setiap kehidupan yang berjalan adalah berdasarkan kinerja organisasi. Yang lebih popular dengan istilah interaksi social dalam kajian social. Yang kemudian melahirkan konsep POAC dalam disiplin ilmu management. Setiap aktivitas individu adalah hasil dari kinerja organisasi. Dari organisasi yang bersifat kesatuan sampai meluas ke lingkup yang lebih besar dan lebih besar lagi. Maka wajar saja, jika di dalam lingkup organisasi pemerintahan ada organisasi anak yaitu tiap lembaga, baik yudikatif, legislative dan eksekutif. Di masing-masing badan beranak pinak lagi menjadi organisasi-organisasi yang lebih kecil lagi.
Pun juga sebuah Universitas. Dalam struktur yang berada di tingkat Universitas, mengerucut lagi ke orgaisasi tiap badan. Demikian melaju terus sampai tidak hanya lingkup para dosen dan pembesar kampus, namun semakin melaju hingga ke lingkup aktivitas mahasiswanya.
Dalam bahasa yang cukup sederhana, tiap individu memiliki potensi sebagai ketua atau penguasa. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sekelompok manusia yang dikuasainya. Tiap-tiap individu memiliki keinginan yang berbeda-beda. Dalam pribadi seorang penguasa komponen ini tersusun secara naluriah; “ingin menguasai kelompok yang dikuasainya”. Yang kemudian direpresentasikan dalam satu keadaan dimana ada kekuasaan, kebijakan dan aturan yang dibuat penguasa untuk ditaati oleh semua individu yang dikuasainya.
Telaah mendalam tentang tatanan masyarakat dunia yang terbentuk berdasarkan corak produksi yang berlaku saat itu, dimulai dari era komunal primitive yang lebih akrab dikenal zaman batu, era corak produksi Asiatic, era perbudakan, era feodalisme, era kapitalisme. Dari urutan tiap era tersebut ada pemaksaan penguasa terhadap apa yang dikuasainya. Meski awalnya di era komunal primitive manusia dikenal hidup berkelompok (komune) karena mereka harus bekerjasama untuk bertahan hidup di tengah alam yang ganas. Kemudian setelah ditemukannya tehnik bercocok tanam oleh para kaum perempuan saat itu –yang lebih dikenal Revolusi Neolitik— kemudian berkembang sampai ke pembagian kerja yang berujung pada ekploitasi; praktek segelintir manusia yang mengambil keuntungan dari sekelompok manusia lainnya. Demikian berlangsung sampai terciptalah kelas-kelas social, yang dalam istilah struktur organisasi disebut atasan dan bawahan. Yang kemudian dalam setiap organisasi tersebut kesewenangan penguasa mendapat legalitas resmi dari organisasi yang lebih besar darinya.
Penindasan yang diberi legalitas peraturan dari atasan ini dalam tatanan masyarakat dunia saat itu diperparah sejak masuknya era feodalisme. Penguasa di era feodalisme memiliki kekuasaan yang absolute (hukum mutlak) yang tidak bisa ditawar ulang. Perjalanan penderitaan para bawahan tidak berhenti sampai situ saja. Karena pasca era feodalisme masyarakat hidup di era kapitalisme. Era kebebasan yang melegalkan rakyat miskin sebagai buruh dan mempatenkan hak penuh penguasa untuk memiliki bergunung-gunung kekayaan. Yang sekali lagi, mereka –para penguasa— mendapatkan perlindungan untuk melanggengkan semua keinginannya.

Suprastruktur itu disebut “lembaga”
Subrastruktur adalah ide dan suprastruktur adalah pelaksana ide. Pondasi awal atau yang lebih dikenal dengan istilah ide, kemudian dilembagakan agar lebih terlihat kekuatannya. Subrastruktur tersebut mulai bermain nakal di area suprastruktur ini. Beberapa aturan main diperketat untuk mempatenkan pemenang adalah sang penguasa. Sekuat apapun musuh yang melawan tetap harus dikalahkan. Mulai dari sang komunalis seperti tawaran Karl Marx sampai kepada sang demokratis. Kursi kekuasaan itu tidak akan runtuh dari tangan sang penguasa.
Adanya struktur pemerintahan adalah sebagai wadah dari setiap subrastruktur yang lahir dari sang penguasa, tidak bisa tidak karena struktur pemerintahan tersebut adalah produk dari para person yang memiliki kekuasaan dan sekaligus yang ingin selalu menguasai.
Maka sama sekali tidak bisa dibenarkan bahwa keberadaan struktur adalah untuk menyelamatkan para bawahan yang ingin mendapatkan pembelaan.

Demokratis pun tetap bukan solusi
Seakan penderitaan para bawahan tidak akan pernah surut. Suprastruktur adalah alat subrastruktur untuk selalu melenggangkan kekuasaannya. Maka segala hal yang menjadi tawaran para penguasa di suprastruktur adalah bentukan dari subrastruktur. Kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945 bukanlah kapsul mujarab yang menjadi berkah untuk semua rakyat indonesia sejak saat itu sampai sekarang ini –terlepas dari banyaknya factor politis yang dibuat Presiden Soekarno dengan para tentara Jepang— namun selembar surat pernyataan kemerdekaan tersebut hanyalah alat untuk melanggengkan kekuasaan sang subrastruktur yang dilancarkan oleh pihak suprastruktur.
Tahun 2009 hanya untuk SD dan SMP Negeri, pemerintah sibuk membuat iklan layanan sekolah gratis, hampir semua media masa diajak bekerja sama untuk turut serta menyukseskan sosialisasi program terbarunya. Bahkan ini pun terlepas dari semua kendala administrasi dan tetek bengeknya yang ribetnya minta ampun. Di tahun 2009 selang beberapa bulan setelah sosialisasi diknas mulai marak, Adi anjal berusia kelas 1 SD –yang juga warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pelayanan pendidikan— saat itu diantar dua relawan dari Griya baca (komunitas peduli anjal). Menuturkan merasa luar biasa dipersulit oleh pihak birokrasi sekolah SDN Kauman 2 saat ingin mendaftarkan Adi. Mereka sudah membawa seperangkat proposal dan lembaran-lembaran lain yang disyaratkan. Prosedur dianggap bertele-tele ini menjadi semakin memperjelas ketiadaan kesungguhan dalam pewujudan dari sosialisasi mendiknas atas program sekolah gratisnya. Alasan mencerdaskan anak bangsa bak jadi bagian terburuk dari rencana sang subrastruktur.
Semua program layanan masyarakat menjadi pemanis yang bukan tanpa bahan buatan; semuanya murni buatan. Buatan untuk memburamkan keburukan-keburukan sang subrastruktur yang tetap menginginkan kekuasaan.
Dan demokratis yang menjunjung tinggi hak pilih warga menjadi ambigu.[]

Kamis, 16 Desember 2010

Pelantikan DKM tidak meninggalkan bekas

DKM, akhirnya dilantik juga
Oleh. Fitri aulia

Senin (14/12), telah dilakukan pelantikan pengurus Dewan Kesenian Malang (DKM) di Kantor Pemerintahan Kota Malang . Pelantikan ini akhirnya terlaksana setelah bertahun-tahun yang lalu seluruh beberapa founding father DKM mengajukan diri dan mengadakan pertemuan berkali-kali kepada pihak pemerintah.
DKM yang dalam strukturnya diletakkan di bawah Dinas kesenian dan pariwisata kota malang, dilantik oleh sekretaris Bupati Kota Malang, hal ini dikarenakan Peni Suprapto (Bupati Kota Malang) sedang berada di luar kota.
Dari SK yang didapatkan tertulis sekitar 20 lebih anggota yang menjadi pengurus di DKM ini. Namun menurut keterangan Sari, selaku bendahara DKM yang juga baru saja dilantik, pengurus yang hadir saat hanya sekitar belasan orang saja.
Prosesi pelantikan berlangsung beberapa saat, setelah diadakan gladi kotor beberapa kali, akhirnya pelantikan pun digelar. Kantor DKM yang terletak di belakang Kantor Balai Kota, tetap sepi setelah pelantikan berlangsung. DKM yang dianggap beberapa pihak mati suri ini (karena tidak adanya program kerja. Red), tetap sepi meski telah diadakan pelantikan secara resmi oleh pemerintah kota. Sari menuturkan, seusai pelantikan ada sebagian yang ikut jamuan makan dan sebagian banyak yang langsung pulang, namun sari adalah satu-satunya pengurus yang berhasil dijumpai di DKM pasca pelantikan berlangsung. Meski ada beberapa personil yang Ntmpak di kantor DKM mereka bukanlah pengurus inti yang usai dilantik.
Hal ini menunjukkan ketidak sungguhannya para pengurus DKM dalam mengemban amanat yang baru saja disampaikandalam pelantikan. Yongki sangat menyayangkan hal ini, “mestinya pengurus yang usai dilakntik itu ya mampir lah ke rumahnya (DKM), ya paling tidak menyusun tanggal kapan bisa mengadakan rapat untuk membahas DKM ke depan. Tapi sama saja mau sebelum atau sesudah dilantik kantor ini tetap sepi.”
Untuk memajukan semua kesenian di kota malang memang sangat dibutuhkan kesungguhan dalam melaksanakan semua pembaruan. “yang paling penting adalah menumbuhkan kecintaan dulu kepada seni, karena dengan kecintaan tersebut akan lebih mudah mendorong keinginan yang kuat dalam menjalankan amanat di DKM, baik dengan atau adanya pelantikan dan SK dari pemerintah kota.’” Jelas Sari bendahara DKM yang juga pecinta seni ini. []

Senin, 08 November 2010

Rys..

Catatan harian untuk Rys
By: Fitri Aulia

Rys, teman seprofesi yang banyak mirip dan banyak beda dengan sosokku. Saat orang-orang sekosan bingung karena air kran mati, dengan santai ia berujar
“Tak perlu bingung kalo tak ada air”.
Ia lebih memilih tidak mandi dari pada harus kedinginan di kamar mandi, atau hanya sekedar karena malas. Maka alasan air keran mati justru menguatkan alibinya untuk mengambil keputusan untuk tidak mandi. Dalam hal ini ia terhitung beruntung karena kebetulan saja dari sononya berkulit putih. Baju bergelantungan di sekitar kamar bukan hal aneh. Ceplas-ceplos kalo ngomong, sampai tak terdeteksi mana kritis mana nyericis. Tak pandang waktu tak pandang bulu.
Pernah ia menggerutu habis ketua BEMnya karena tak kunjung menurunkan SK kepanitian acara besar di BEM.
“g paham aku maunya Faiz apa. aku sudah sering bilang segera turunkan SK, e alasannya itu-itu ja, yang nunggu koordinasilah nunggu inilah nunggu itulah. Hmmm, lihat saja nanti kalo aku sudah capek, bakal tak tinggal, g peduli”. Saat-saat seperti ini, usaha memahamkannya dengan cara apapun rasanya percuma, nggak mempan. Maka aku hanya diam mengabaikan.
Sejak tiga bulan terakhir ini, aku mulai banyak tahu tentang sosoknya yang sebenarnya, koleksi pertemanan di Facebook melebihi jumlah mahasiswa tarbiyah angkatan 2008, angka kuatitatifnya sekitar 1,5% dari jumlah keseluruhan, atau dua kali lipat dari jumlah 264 mahasiswa. 5.000 teman. Seorang pecinta jejaring social yang bener-bener maniak. Mulai dari twiter, Yahoo Massanger, friendster, sampai facebook. Saat OL jangan harap ia memperdulikan keadaan alam yang terjadi di sekitarnya, makan minum saja lupa. Bahkan mungkin bau kentut yang busuk sekalipun tak akan mampu mengusiknya.
Cita-cita yang menjulung ke langit juga baru ku ketahui selama tiga bulan terakhir ini.
“ Áyo mbak kuliah ke Malaysia”. Ajaknya suatu ketika.
“aku serius mbak, aku sudah cari banyak info dari teman-temanku yang kuliah di luar negeri lewat facebook dan YM tentang perkuliahan di sana. Mulai dari kuliah jalur beasiswa sampai jalur formal pada umumnya. Tentang budaya-budaya disana, dan segala hal tentang keadaan alam disana”.
“Rencananya aku akan ambil jurusan Islamic Studies, aku juga tertarik pada ilmu-ilmu filsafat. Pluralism agama. Tasawuf modern, apalagi kajian tentang syekh siti Jennar, hmm aku adalah penggemar beratnya”.
“menurutmu bagaimana mbak?”. Tanyanya setelah bercerita panjang lebar tentang segala mimpi-mimpinya.
“bagus”, jawabkku singkat
“yuk mbak bareng-bareng berangkat kesananya, apa kau tak punya keinginan pergi kesana?”. Selidiknya menuntut persetujuanku
“kalaupun ada kesempatan S2, paling ke Jogja kalau tidak ke UM Rys’, jawabku tak kalah serius mencoba menyepadani ekspresinya
Gayanya yang sering semau gue telah terbukti ampuh menghancurkan perjalanan cintanya. Rys, dulu pernah tertarik pada seorang teman yang ku kenal dan konon sahabat karibnya. Namanya Habibi. Ceritanya hampir terdengar ke seluruh penjuru kampus. Tidak sedikit yang mengutuki perbuatannya. Namun ada juga dari sisa orang yang mengutukinya, beberapa segolongan kecil yang menyampaikan rasa prihatin padanya. Rys dulu adalah aktivis salah satu organisasi Ekstra yang cukup tersohor di kampus. Sejarah awal hidupnya cukup baik, namanya mulai dikenal orang saat ia bergabung di organisasi ini. Keberaniannya berpendapat di depan orang di dukung dengan kemampuan verbal yang baik, mengantarkan ia ke kursi kandidat calon ketua rayon. Kurang beruntungnya, ia harus melawan Habibi dalam pemilihan ini.
Pewacanaan bias gender yang masih kolot di organisasi ini, menjadi alasan yang selalu diungkit-ungkit untuk menjatuhkannya dari kursi pemenang.
“alasannya lucu, kata para senior, Rayon tidak pernah punya ketua cewek. Mau jadi apa nanti kalau ketuanya cewek!?”, Ulasnya seusai sholat magrib berjamaah denganku di ruang sholat kos-kosan.
Pada putaran pertama, Rys mengantongi banyak suara, namun pada putaran kedua suara untuknya mulai berkurang dan finalnya Habibi terpilih sebagai ketua.
TAMAT sudah riwayatnya. Sejak kekalahan dalam pemilihan itu, serentetan peristiwa pahit menimpanya. Seperti yang sudah ku ceritakan diawal, sejak sebelum pemilihan, Rys dan Habibi memang sohib. Kebersamaan mereka ternyata berimbas pada persoalan perasaan. Diam-diam Rys mulai jatuh hati pada Habibi. Sejak Rys sadar atas perasaannya, ia mulai menciptakan Space dengan Habibi. Saat ditanya oleh habibi, Rys pun memberanikan diri menyampaikan perasaanya.
“Maap nyut, aku sudah tidak bisa bareng kamu lagi. Karena aku mulai jatuh hati padamu. Aku tahu ini salah, makanya lebih baik aku menjauh untuk beberapa saat, sampai rasa ini hilang dari diriku. Setelah itu aku akan menemuimu lagi untuk minum kopi dan mendiskusikan banyak hal tentang filsafat denganmu. mohon jangan marah”.
“maaf Rys, ku pikir kita hanya bisa jadi teman”, ungkap Habibi menutup pembicaraan melalui telpon selulernya.
Pasca prosesi pemilihan ketua berakhir, tak tanggung-tanggung Rys me-non aktifkan diri di organisasi yang telah membesarkan namanya, demi menjauhi Habibi. Sikap Rys ini ternyata menjadi bual-bualan semua anggota.
Beberapa stigma negative mulai menghacurkan nama baiknya. Sampai kini, ia tak sama sekali terlibat aktif di organisasi tersebut. Sikap egoisnya disayangkan banyak orang.
Pahitnya, tak lama kemudian terdengar kabar bahwa Habibi telah melabuhkan hatinya pada Zaza, cewek lain yang kebetulan aktivis di organisasinya. Rys harus menerima kenyataan ini, dan siap melapangkan hatinya saat melihat Habibi jalan dengan Zaza. Menangis sudah tak terhitung lagi banyaknya. Herannya saat itu hal aneh terjadi, Rys tak sedikitpun bisa mengurangi dosis cintanya pada Habibi.
Perselisihan sengit terjadi antara Zaza dan Rys. Meski tidak sekalipun Rys berbicara sepatah katapun pada Zaza saaat bertemu. Namun konflik selalu melalui orang ketiga yang kemudian terdengar di telinga Rys.
Keadaan mulai memanas, sampai ku dengar salah satu teman baikku pun mengeluhkan sikap Rys padaku.
“aku tak habis pikir, mestinya Rys tidak sebodoh itu bertidak. Mestinya ia jangan pergi melarikan diri begitu saat keberuntungan tidak sedang berpihak padanya. Aku sangat menyayangkan keputusannya”
“kau tahu, banyak anggota yang mulai non-aktif pasca kepergiannya. Posisinya cukup strategis untuk mempengaruhi anggota lain untuk turut non-aktif mengikuti jejaknya. Meskipun aku yakin, Rys tak pernah mengajak siapapun untuk turut meninggalkan rayon, namun ia sudah menjadi satu bagian yang cukup berpengaruh disana. Kenapa ia tak memikirkan hal ini sebelumnya, ia benar-benar egois”.
Sejak saat ini aku menambah refrensi untuk memberikan nilai pada Rys, keegoisannya bukan hanya akan menghancurkan hidupnya namun juga menghancurkan banyak hal di sekelilingnya.
Namun Rys bukan hanya sosok yang pandai mengecewakan orang seperti itu. Ku pikir tiap elemen mengandung komponen positif dan negative, begitu juga sesosok Rys.
Meski sosoknya begitu kaku, namun ia tak pernah ragu menolong teman. Jika ada teman yang bingung meminta maaf padanya karena merasa telah berbuat salah, Rys malah lupa kesalahan apa itu. Maka boro-boro memberi maaf, dengan singkat ia hanya bilang, “o iya ta?, ya sudah nyantai saja, g usah ambil pusing”.
Sifatnya yang ala kadarnya dan tak pernah neko-neko dalam pergaulan memberiku kenyamanan tersendiri. Meski kadang aku setengah mati dikecewakan akibat sikapnya yang kebablasan saat cuek dengan orang.

Kembali bercerita tentang mimpi-mimpinya…
Bukan tidak sengaja Rys mengumpulkan 5000 teman dalam daftar pertemanan di FB nya. Dari 5000 teman tersebut, kurang lebih ada 40% adalah member luar negeri. Entah kelahiran asli sana, ataupun yang kebetulan sedang berdomisili di sana.
Sampai larut malam, di pojok ruangan, saat lampu kos mulai padam, terdengar suara jari-jari yang sedang menjentik-jentikkan di setiap tombol laptop. Ku ikuti sumber suara dan saat ku tengokkan kepala, ku lihat Rys sedang chatt dengan salah satu temannya.
“kau tahu ini pukul berapa?, tanyaku
“entah, yang jelas di Mekkah dan Maroko ini belum terlalu larut untuk tetap beraktivitas”, jawabnya tanpa sedikitpun mengangkat kepalanya untuk melakukan kontak mata padaku
“oke, semoga kau tak bangun kesiangan lagi”, ucapku sambil berlalu
Ku ambil wudhu dan sholat, aku tahu ini sudah tidak lagi terlalu larut, saat ku lirik jam dinding di depan pintu kamar Rys, jarum jam menunjukkan pukul 01.45 WIB.
4 jam setelahnya…
“mbak, kau tahu teman chattingku semalam?, aku benar-benar kagum padanya. Aku tadi sempat berjanji akan menemuinya kalau aku jadi melanjutkan studi S2 di Maroko. Kau masih ingatkan, aku pernah bilang kalau tidak diterima ke Malaysia, aku akan s2 di belahan Negara bagian timur saja.”
“sebenarnya aku juga tertarik dengan saran Prof. Kana, pendidikan di India juga bagus.” Nada suaranya tidak berubah sedikitpun, tetap tinggi dan berapi-api.
Pernah saat ku memasuki kamarnya dan lupa menutup pintu, ia malah berujar
“mbak, kau tahu, di Rusia kamar adalah privasi setiap pemiliknya, dan tak ada yang membiarkan pintu terbuka barang sebentar, meski hanya sejedar mengambil sikat gigi yang tertinggal di laci”.
Aku hanya mengerutkan kening melihat polahnya.

Sabtu, 02 Oktober…
Seusai rapat pengurus di LPMku. Ponselku berbunyi, ada animasi amplop surat berwarna kuning terlihat di layar muka ponselku. Satu pesan masuk. KLIK.. ku baca dari siapa.
Nama Rys tiba-tiba nongol diantara serentetan nama pengirim pesan di kotak masukku.

Rys: mbak, masih pingin ke pameran buku g?, aku nganggur nih..
Aku: OK, jam 19.20 ya, jemput aku ke LPM, jangan lupa bawa helm
Rys: OK, siap
Tak lama, saat jam dinding menunjukkan pukul 19.30..
aku dan Rys, menghabikan waktu di pameran buku.
“mbak, sudah baca novel terbarunya kang abik belum?”.
“pasti settingnya luar negeri lagi?”
“ya pastilah.. tapi menurutku ayat-ayat cinta is the best novel”.
“Setting luar negeri itu sangat cocok denganku. Apalagi ditambah dengan kisah-kisah perjuangan cinta,,,ohh, begitu menyentuh”.
“besok mbak ya, kalo aku sudah ada di luar negeri sana, akan ku kirimkan novel-novel terbaikku ke indonesia. Dan kamu harus jadi orang pertama yang membacanya.
Sedikit konflik melawan budaya pesantren tulen yang menuhankan keluarga Yai seperti di pesantrenku, sedikit kisah perjuangan cinta meski tak segila Qays dan Laila, perjuangan akademisi yang tidak pernah luput dengan doa dan cita-citanya seperti Love Story In Harvad, dengan latar belakang tokoh jawa yang sangat kuat, peleburan konflik antar agama seperti perang yang tak kunjung usai antara palestin dengan amerika, bias gender seperti buku-bukunya Laurin E, kajian tasawuf modern seperti kisahnya Jefri Lang, dan dengan ending yang bahagia seperti Mujse Dosti Karonge…Hmmm, tunggu ya mbak, aku janji akan menulisnya”.
Saat tersadar. Kerumunan orang di samping kanan dan kiri kami tiba-tiba mulai sepi. Beberapa stand buku pun mulai terlihat berbenah. Stand paling pojok sudah tertutup rapi, dan lampu hampir dimatikan. Iringan music yang sedari tadi menemani para pengunjung sudah tidak lagi terdengar. Owh, kami baru sadar bahwa pameran buku akan segera ditutup 7 menit lagi. Padahal sedari tadi belum satu buku pun yang cocok dan akan kami beli.
“ihh, masak pulang dengan tangan kosong mbak?’
“ayo ayo, paling tidak kita harus membawa pulang satu buku” suara Rys mengkomando
Dan bergegas kami memilih buku, dengan tanpa pertimbangan matang.
Oke, aku menggenggam novel. Dan di tangannya, Rys sudah memegang satu buku,
“bagus gak mbak buku ini?”, suaranya meminta pertimbanganku
ku coba amati judulnya, tertuliskan “Dari Neomodernisme ke Islam Liberal” karya Dr. Abd A’la, MA. Dibagian bawah buku tertulis; Jejak Fadlur Rahman dalam wacana islam Indonesia. Dan di bagian paling bawah tertera; kata pengantar Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA.
“bagus, kamu benget Rys”. Komentarku
Dia hanya nyengir membalas komentarku.
Dan seusai membayar, kita pun bergegas pulang..

adikku Dyslexia

RESENSI FILM

Dyslexia. bukan nakal, hanya butuh pengertian.

Judul film: TAARE ZAMEEN PAR (Every child is special)
Tanggal Rilis :21 December 2007 [ Wall Disney ]
Jenis Film :Drama
Diperankan Oleh :Darsheel Safary, Ameer Khan, Tanay Chheda
Film ini diproduseri oleh: Ameer Khan.
Penulis: Fitri Aulia

Sejuta Permasalahan pendidikan bagi perkembangan anak tengah merebak di dunia pendidikan saat ini. Banyak anak yang di D.O (droop out) dari sekolah karena dianggap nakal, banyak ulah, tidak disiplin dan masih banyak permasalahan kenakalan yang dilakukan anak. Orang tua yang tidak tahu alih-alih membela anak, sebagian besar justru tidak ingin ketinggalan untuk turut serta dalam menghardik anak-anaknya sendiri. Bahkan tak sabar untuk menunggu sampai di rumah, anak dimarahi dan dipermalukan di depan umum. Orang tua sama sekali tidak memberi kesempatan anak untuk berbicara dan membela diri. Pertanyaannya apakah anak benar-benar nakal?, dan apakah hanya anak yang patut dipersalahkan dalam hal ini?.
Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Anak akan berkembang sesuai kondisi lingkungan yang ia tinggali. Hal ini juga dibenarkan dalam teori pendidikan yang disebut dengan teori empirisme ; bahwa anak-anak akan dibentuk oleh lingkungannya. Penjelasan ini paling tidak bisa menyadarkan para orang tua untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk perkembangan anak-anaknya. Maka disinilah alasan pentingnya latar belakang pendidikan bagi orang tua. Tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, namun yang lebih penting lagi adalah memenuhi kebutuhan perkembangannya. Piaget (1961) menjelaskan dalam rumusan perkembangan kognitif bagi anak bahwa; ada empat tahapan perkembangan anak, sensori motorik , pre operasional , concret operasional dan formal opersional . Ketidak mampuan orang tua dalam memahami pentingnya mewadahi perkembangan anak akan merusak perkembangan sang anak itu sendiri.
Ishaan Nandkishore Awshti (diperankan oleh; Darsheel Safary), satu korban diantara banyak anak yang menjadi korban kebodohan orang tua dalam mendampingi masa perkembangan anak-anaknya. Orang tua yang egois yang hanya memaksa anak untuk rajin mengukir prestasi –yang akhirnya akan berujung pada pengangkatan prestise orang tua—, tanpa sama sekali memberikan pelayanan terbaik bagi anak, atau paling tidak sempat menanyakan “kau kelak ingin jadi apa nak?”. Paparan singkat ini cukuplah menjadi gambaran awal betapa menderitanya ishaan. Keadaan ishaan diperburuk dengan sosok kakaknya yohan . Yohan yang dikenal sebagai murid yang berprestasi di sekolah menjadi alasan orang tua untuk selalu menuntut ishaan lebih. Kesempurnaan Yohan dijadikan alat perbandingan yang tak henti-hentinya disampaikan di depan ishaan.
Perkembangan fisik ishaan juga terpaut jauh dari kakaknya Yohan. Ishaan yang memiliki fisik agak kurus dan kecil dari teman sebayanya, serta agak sulit diatur rapi oleh ibunya, membuat ia semakin tidak beruntung dalam pergaulan. Sepulang sekolah hanya sibuk dengan dunianya sendiri, bermain dengan dua ekor anjing di depan rumah, atau sibuk menggambar di dalam kamar. Pernah suatu ketika sepulang sekolah, ishaan terlibat dalam perkelahian dengan anak-anak kecil di kompleks rumahnya. Karena lemah dan tidak memiliki teman, ishaan lagi-lagi harus menerima kekalahan, parahnya orang tua anak (yang berkelahi dengan ishaan) melaporkan ishaan kepada Mr. Awasti (orang tua ishaan). Ishaan yang memang dianggap sebagai tukang pembuat ulah dan bandel di daerah kompleknya bahkan di depan orang tuanya, harus menerima tamparan keras dari ayahnya tanpa bernegosiasi lebih dahulu. Dan sekali lagi ishaan kurang beruntung karena lahir dari orang tua yang tidak memahami perkembangannya.
Ishaan yang tidak memperoleh apa yang dibutuhkan di lingkungan keluarga, pun juga di sekolahnya. Keterbelakangan daya tangkap dalam mengikuti pelajaran di kelas membuat dia harus berkali-kali menerima skors di depan kelas. Hampir semua guru menganggap ishaan bodoh dan daya konsentrasinya lemah. Pernah dalam kelas bahas indonesia bab Kata Sifat, ishaan dikeluarkan dari kelas karena tidak bisa menerima intrupsi guru dengan baik. “ayo ishaan buka hal 38, bab 4, paragraf 3”, teriak guru dari depan kelas. Akhirnya karena ishaan tidak segera menemukan halamannya, temannya Adit Lamba diminta untuk membantunya. “ayo baca!”, tukas gurunya. Ishaan terdiam cukup lama sambil memandangi kumpulan huruf di bukunya. “ayo segera, baca!”. Dengan lugu ishaan menjawab, “maaf aku tak bisa membacanya bu, hurufnya menari-nari”. Dan tak lama, guru tidak lagi menerima negosiasi, dan sang guru mengakhiri perbincangan dengan kata “keluar!, kau mengacaukan kelas!”. Sampai usia 9 tahun ishaan masih belum bisa membaca dan menulis dengan sempurna. Bahkan tahun ini adalah tahun keduanya tinggal di kelas 3.
Keadaan buruk yang menimpa ishaan di kelas berujung pada pemindahan ishaan ke sekolah berasrama, milik salah satu teman ayahnya. Dengan dalih ingin mendisiplinkan ishaan dan menyelamatkan ishaan dari kebodohan dan kenakalan, ayahnya mendaftarkan ishan pada sekolah berasrama New Era. Bak seorang diktator, ayah ishaan sama sekali tidak memberi kesempatan ishaan untuk berpendapat.
Pada minggu-minggu pertama, pengalaman belajar dan berkomunikasi ishaan di sekolah berasrama ini sama sekali tidak menunjukkan perubahan bahkan semakin bertambah buruk. Berbagai macam kesulitan belajar tetap dialaminya, sementara itu tidak ada satupun guru yang bisa memahami kebutuhannya. Ia mendapat cambukan di tangan kirinya di kelas seni, mendapat skorsing di depan kelas saat di kelas bahasa asing, di keluarkan dari tim gerak jalan karena dianggap mengacaukan barisan, dan hampir di berbagai kelas kejadian ini berulang terus-menerus. Sampai datanglah Ram Shankar Nikumbh, guru kesenian baru di sekolah berasrama.
Nikumb yang juga mengajar di sebuah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus pelan-pelan mulai memahami keadaan ishaan. Informasi sebanyak-banyaknya tentang ishaan ia kumpulkan dari semua guru, dan memeriksa semua buku tugas ishaan. Akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi keluarga ishaan untuk membicarakan hal ini.
Perbincangan antara nikumb dan orang tua ishaan berlakngsung cukup serius. “bukan hanya itu, membedakan satu huruf dengan huruf yang lain pun masih kesulitan, antara “b” dangan “d”, pada penulisan “Sir” letak S dan R tertukar menjadi “Ris”, penulisa huruf “h” dan “t” mengalami kesalahan pencerminan huruf (alias ditulis dengan arah terbalik), terkadang dalam satu halaman saja ishaan menulis berkali-kali kesalahan yang sama. Mencampurkan kata-kata yang ejaannya hampir sama. S-o-l-i-d menjadi S-o-i-l-e-d”. Jelas nikumb dengan cermat sambil menunjuk-nunjuk tulisan ishaan di buku tugasnya.
Setelah menjelaskan panjang lebar kondisi ishaan pada keluarganya, Nikumbh menyangkal bahwa ishaan bukan malas ataupun bodoh, hanya saja ishaan sedang mengalami gangguan dyslexia . Sebuah gangguang dimana anak mengalami kesulitan membaca atau mengenali huruf. Jika ada orang sedang menulis a-p-e-l, paling tidak dia akan memiliki bayangan tentang apel, namun penderita dyslexia tidak memiliki kemampuan ini. Padahal untuk bisa menulis kemampuan dasar ini sangat penting dan dibutuhkan. Untuk menghubungkan suara dengan simbol-simbol.
Namun Mr.Awashti (ayah ishaan) membantah bahwa itu hanya alasan saja untuk memaklumi proses belajar. Sedikit berpikir Nikumbh berdiri dan meraih sebuah kotak mainan mobil yang bertuliskan lambang-lambang huruf cina. Kemudian disodorkannya pada ayah ishaan, “bacalah ini!”, ayah ishaan membantah “mana mungkin aku bisa membacanya, ini huruf cina!?”. Namun Nikumbh tetap memaksa “ayo, berkonsentrasilah!”, dan dengan nada meninggi ayah ishaan menolaknya “omong kosong apa ini!?, mana mungkin aku bsa membacanya!”. Lalu nikumb membalas perlakuan Mr.Awasti dengan memarahinya seperti saat Mr. Awasti memarahi Ishaan, “anda sangat cerewet dan pembantah! sungguh perilaku anda sangat buruk! Anda berbuat jahat!”. Mr. Awasti tertegun, dan terdiam beberapa saat, suasana hening, diam-diam Mr. Awasti mula paham maksud Nikumb. Dengan suara merendah Nikumbh kembali mengingatkan, “begitulah kesulitan yang dialami ishaan”. “penderita dyslexia juga mengalami kesulitan menangkap perintah dengan durasi cepat dan berurutan”, tambah Nikumb.
Takjub dengan lukisan-lukisan Ishaan Nikumb memutuskan untuk membawanya, dan pelan-pelan ia mulai mendekati ishaan dan memberi perhatian lebih dan menjelaskan pada ishaan bahwa, ia mengerti keadaannya.
Pembelajaran khusus pun diberikan Nikumb, mulai dari membedakan huruf, menstimulus pemahamannya atas segala sesuatu yang ia pikirkan, sampai belajar membaca, menulis dan berhitung. Sampai akhirnya ishaan benar-benar bisa mengejar ketertinggalannya dengan teman-temannya.
Sementara itu, birokrasi sekolah yang cukup normatif mencoba tetap menekan ishaan dan menganggap ishaan tak pernah bisa berkembang baik. tantangan Nikumb selanjutnya setelah berhasil menyadarkan orang tua ishaan adalah mengubah pola pikir para stakeholder sekolah untuk tidak menganggap anak-anak seperti ishaan tidak pernah bisa berkembang. Inilah gambaran manusia saat ini, terlebih di Indonesia, dalam mendesain pendidikan. Bahwa anak yang tidak menurut adalah nakal, patut memperoleh hukuman. Jika anak tidak berkembang sesuai lazimnya –yang terjadi pada anak-anak lain di usianya— dianggap seutuhnya adalah kesalahan pribadi anak. Lalu dengan sok tahu mencoba memberi penyelesaian sebagai orang tua yang baik, yang tidak sama sekali melibatkan anak-anak untuk memilih sendiri kebutuhannya. Padahal itu salah.
Anak-anak adalah aset terbesar yang dimiliki negara, tidak hanya orang tua. Karena mereka adalah generasi setiap bangsa. Proses pendidikan yang salah sejak dini akan berdampak fatal untuk masa depan sang anak. Maka jangan pernah menyalahkan anak jika ia menjadi generasi yang tidak bisa berkontribusi apa-apa, atau bahkan sebaliknya, sebagai sumber kerusakan bangsa. Maka ketahuilah pada dasarnya, ini adalah tanggung jawab semua calon orang tua.