Selasa, 28 Desember 2010

Artikel orang lain #2

Surat Kepada Tuhannya Temanku
oleh Lila Zee pada 07 Juli 2010 jam 8:26
Jakarta, 7Juli 2010

Kepada :
Yang disebut Tuhan oleh temanku

Salam,
Temanku baru saja bercerita kepadaku, bahwa dirinya tidak pernah bisa merasakan kepuasan ketika melakukan hubungan seksual dengan suaminya, dan jika selama ini dia melayani suaminya di ranjang maka itu hanya sebagai pelaksanaan kewajibannya sebagai istri, karena menurutnya jika seorang istri menolak akan suaminya untuk berhubungan sex, maka Tuhan beserta malaikatNya akan mengutuk si istri tsb, karena seorang lelaki tidak bisa menahan hasrat seksualnya bila hasrat itu muncul dan tidak mendapatkan pemuasan.
Wahai Engkau yang disebut sebagai Tuhan oleh temanku….. benarkah demikian ? Mengapa Engkau sebagai Tuhan begitu gemar mengutuk ?? Dan apakah memang Engkau menganggap sex hanya menjadi milik lelaki ??
Lalu apakah Engkau pun akan mengutuk lelaki yang mempunyai banyak istri dengan alasan tak bisa menahan nafsu dan daripada berzina maka lebih baik mengawini banyak istri ?? Lantas bagiamana dengan perempuan yang juga mengajukan alasan yang sama ??
Wahai Engkau yang disebut sebagai Tuhan oleh temanku….. mengapa Engkau begitu peduli dengan urusan sex dan ranjang manusia ?? Bahkan Engkau pun memerintahkan para malaikatmu yang konon katanya suci, untuk ikut andil dalam mengutuk manusia ??
Konon Engkau pun dikatakan Maha Pengasih dan Penyayang segala makhluk, namun mengapa engkau memberikan kutukan ?? Di mana Kasih-Mu ??
Mengapa pula Engkau rajin mengurusi selangkangan manusia ?? Begitu menarikkah selangkangan manusia bagiMu Wahai engkau yang disebut Tuhan oleh temanku…..??
Aaaahhh……………… Engkau memang sosok yang absurd bagiku, dan tak salah bila aku tak menganggapmu Tuhan……. Toh Engkaupun tak rugi juga tak mempunyai umat sepertiku, karena Engkau masih mempunyai jutaan umat perempuan yang siap dan rela Engkau berikan kutuk…
Wahai Engkau yang disebut Tuhan oleh temanku…… aku rasa cukup sekian suratku padaMu, dan semoga Engkau bersedia menjawab semua pertanyaan sederhanaku ini.
Jika Engkau bisa melihat apa yang terjadi di atas ranjang semua umatMu, maka Engkau pun pasti mampu membaca suratku ini, namun itu juga bila Engkau mampu membaca tulisan dalam bahasa Indonesia

Salam sejahtera,

Zee

Artikel orang lain

Saya Memilih untuk Menjadi Perempuan Terkutuk yang Merdeka
oleh Lila Zee pada 25 September 2010 jam 15:49

Seorang rekan bercerita kepada saya bahwa salah seorang keponakannya (anak dari abangnya) tidak diizinkan oleh ayahnya untuk kuliah setelah lulus dari SMA, dengan alasan bahwa seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan lelaki tanpa didampingi oleh ayahnya maupun saudara lelakinya. Dahulu keponakan teman saya itu sekolah setingkat SMA di sebuah boarding school yang memisahkan antara siswa lelaki dan siswa perempuan. Sedangkan untuk sekolah setingkat universitas belum ada yang memisahkan antara siwa lelaki dan perempuan seperti itu, sehingga keponakan teman saya itu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.

Pembicaraan ini membuat saya kepikiran terus dan sedikit resah, walaupun teman saya itu bercerita dengan nada enteng dan tampak tidak ada beban sama sekali.



Yang membuat saya gundah adalah, apa jadinya bila orang yang mempunyai pemikiran seperti itu semakin banyak di negeri kita ini ? Apakah negeri kita hendak dijadikan seperti neraka Afghanistan yang pernah dikuasai oleh Taliban yang mempunyai pemikiran yang sama dengan abang teman saya itu…?! Bagaimana nasib perempuan Indonesia bila orang tua mereka memperlakukan anak-anak perempuannya seperti itu ?



Anehnya, justru orang-orang yang memperlakukan perempuan seperti itu lah yang sering memproklamirkan diri bahwa mereka tau bagaimana cara memuliakan perempuan. Apa sebenarnya definisi mulia bagi mereka ? Apakah perempuan terpasung yang tidak berhak untuk mengekspresikan eksistensinya itu kah yang dianggap sebagai perempuan mulia ?

Mengherankan sekali bila di abad 21 ini masih ada manusia yang berpikir seperti itu, lebih memilih anaknya tidak mengenyam pendidikan tinggi daripada membiarkan anak perempuannya bergaul dengan lelaki. Mengapa orang-orang seperti ini tidak bisa melihat bahwa manusia-manusia lain perempuan dan lelaki bisa bebas bergaul namun tidak terjadi sesuatu yang menakutkan. Apakah dalam pikiran orang-orang seperti itu hanya urusan seks saja yang terlintas ? Apakah dia pikir bila lelaki dan perempuan bertatap muka, berbincang-bincang, dan sering bertemu pasti akan terjadi sebuah hubungan seks ? Oh Tuhan….. ada apa dengan orang-orang ini ?



Pemikiran mereka benar-benar di luar nalar dan sangat melecehkan perempuan, dan saya sebut mereka sebagai orang-orang yang sebagai “anti terhadap kemanusiaan”. Perempuan hanya dianggap sebagai seonggok daging bernyawa yang tidak punya hak untuk mengurus dirinya sendiri dan dianggap tidak mampu menjaga diri sebagaimana seorang lelaki.

Apakah ini sebuah perintah dari Tuhannya ? Lantas Tuhan macam apa yang memperlakukan ciptaan-Nya dengan cara yang tidak manusiawi seperti ini yang kemudian semuanya diatasnamakan sebagai “Kemuliaan Perempuan” ?!



Bila hanya dengan jalan seperti itulah sebuah kemuliaan dapat dicapai oleh seorang perempuan dan bila hal itu dikatakan sebagai perintah Tuhan….. Sungguh…. saya tidak akan mempertuhankan sosok yang biadab dan melecehkan perempuan, dan saya lebih memilih untuk menjadi “Perempuan Terkutuk” yang merdeka.

Materi-Materi jurnalistik

Menulis di Media Massa
Oleh Khoirul Anwar

Batasan
Kata menulis di sini kita batasi dengan menulis artikel ilmiah populer di media massa. Bukan tulisan dalam bentuk berita/informasi, puisi, cerpen, novel, dkk.

Mengapa menulis di media sulit?
Media, terutama Koran, sangat banyak menerima artikel dari luar. Rata-rata 10-30 artikel per hari. Misalnya Jawa Pos (25-30 artikel per hari), Kompas (30 ke atas), Republika (15 artikel), Radar Malang (5 artikel), dll. Karena banyaknya pengirim, maka persaingannya sangat tinggi.

Apakah bukan berarti tidak bisa ditembus?
Bisa. Tapi harus tahu trik dan tipsnya.

Caranya?
1. Cari tahu karakteristik media yang akan Anda kirimi artikel.
2. Cari momen yang tepat saat Anda mengirim artikel.
3. Cari tahu bagaimana media menerima artikel dari luar
4. Pelajari seperti apa model artikel yang diterima yang akan Anda kirimi.

Seperti apa karakteristik media?
Media memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan itu terkait misi dan segmen media. Contoh: Jika Anda mau mengirim artikel keagamaan, jangan kirim ke Jawa Pos. Karena Jawa Pos suka artikel actual karena Jawa Pos berbasis umum. Kirimlah ke Republika atau media yang berbasis agama.
Jadi sekali Anda keliru mengirim ke media yang tidak sesuai dengan misi tulisan, maka akan sangat sulit menembus media itu.

Seperti apa momen yang tepat mengirim artikel?
Media massa menyukai momen dan aktualitas. Maka dari itu perhatikan momen, karena itu sangat penting. Dengan mengetahui momen, Anda akan bisa dengan cepat menentukan akan menulis artikel model apa.

Apa saja model artikel itu?
1. Artikel situasional
2. Artikel aktualitas
3. Artikel getaran
4. Artikel misi

Bagaimana media menerima artikel dari luar?
Biasanya media menunjukkan cara bagaimana orang luar mengirim artikel. Ada banner atau disclaimer yang dibuat media tersebut. Lakukan apa permintaan dalam disclaimer media itu.


Dari sisi penulis, apa yang harus diperhatikan?
Media sangat memperhatikan kapabilitas penulis. Karena itu jika Anda ingin artikelnya diterima, maka kapabilitas harus diperhatikan. Jika Anda ahli hokum menulislah hukum, dll.

Bagaimana memulai menulis?
Ada tiga masalah klasik yang dihadapi penulis. (1) Tidak punya ide menulis, (2) sudah punya ide tapi tak bisa memulai, dan (3) sudah bisa menulis tapi di tengah jalan macet. Karena itu tiga masalah klasik ini harus dipecahkan dulu.

Mau menulis ide buntu, bagaimana membukanya?
Berpikirlah peka terhadap hal-hal yang aktual, kedekatan, getaran kuat, ketokohan, situasional, sensasional, human interest, dan sesuatu yang baru. Karena itu banyak baca merupakan kewajiban bagi penulis.

Bagaimana memulai menuliskan ide?
- Jangan takut memulai menulis.
- Mulai dari hal-hal ringan. Misalnya kutipan (langsung atau tak langsung), pertanyaan, atau data-data ringan.

Bagaimana mengatasi kemacetan menulis?
Menulis itu sebenarnya menjalankan segitiga pemikiran. Ide-Pertanyaan-Jawaban. Maka, jika berhenti pertanyakan dan jawablah kembali ide awal Anda.

Apakah menulis harus ada outline?
Bisa juga, bisa juga tidak. Terserah. Tapi yang terpenting menulis itu harus mengalir.

Kok sulit ya?
Menulis artikel itu mudah. Jika Anda bisa bicara, maka Anda pula bisa menulis.


* Penulis adalah pemimpin redaksi Radar Malang

Teropong Kampus #2

PENJUAL “TEH NDA” MASUK KAMPUS
Oleh : Nurlyta Virlyani

Beberapa mahasiswa yang melintas di lobi gedung B, dikejutkan dengan berdirinya stand minuman teh Nda di bawah tangga yang terletak di depan kantor bersama. Menurut keterangan salah satu ibu satpam yang sedang bertugas, ia sudah melihat stand itu berdiri sejak senin 15 November 2010. Tapi karena hari itu sedang libur menjelang Hari Raya Idhul Adha. Maka ditunda sampai jum’at 19 November2010. Selain di gedung B, dijumpai satu stand lagi di depan SC. Pemilik dari stand ini adalah Fitria Dina Riana. Setiap stand menjual berbagai macam minuman berjenis teh.
Menurut Jaiz Kumkelo selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan; orang yang berjualan di sekitar kampus adalah yang sudah memenuhi system persyaratan. Namun lebih detail beliau menyatakan tidak memahami system perijinan penjual Teh Nda ini. karena dari pengakuannya bukan kuasa beliau. Sama halnya dengan Pernyataan A. Heru Achadi Hari selaku kabag Umum, “ yang saya tahu hanya tentang KOPMA dan Kantin. Untuk masalah dua penjual minuman di gedung B dan SC saya tidak ada sangkut pautnya”. Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa yang memiliki wewenang tentang permasalahan ini adalah para pimpinan atasan. ”Setahu saya, penjual itu berkaitan dengan pimpinan birokrasi dan PR2, mungkin sudah diizinkan Rektor”, tambahnya.
Menurut memo yang diterima oleh pihak perusahaan “The Nda” dari pihak birokrasi –yang jadi landasan perizinan buka stand di wilayah kampus UIN—. “Harap konter The Nda dapat ditolerir penempatannya karena sudah ada kontrak dengan rektor”. Memo yang di bawah tanda tangannya tertera nama terang Dra. Cholidah selaku Ka. Biro Adm. Umum ini tertanggal 15 November 2010.
Namun setelah ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan, Cholidah mengaku tidak pernah ikut campur dalam perizinan tersebut. “Yang mengizinkan itu Pak Rektor, semua yang berkaitan dengan kampus ini harus diizinkan Rektor, termasuk penjual teh tersebut”, ujar Cholidah. Beliau sebagai Kepala Biro Administrasi Umum hanya bertugas untuk mengecek sistem saja. “saya hanya mengecek system, kalau system perizinan sudah benar, saya setujui, tapi kalau masih belum lengkap maka perizinan tidak akan saya setujui”. Ujarnya.

Teropong Kampus

TK2 Butuh Home Theatre
Oleh: Asri Aisyah El Zahra & M. Roihan Rikza

Sabtu sore (12/11) sepulang PKPBA, para mahasiswa yang melintas di sekitar gedung A dan gedung B terkejut oleh aksi tarian dan olah vokal yang digelar oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang tidak mengenakan jilbab. Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata sekelompok ini adalah binaan teater TK2. Efendi (yang lebih akrab disapa Boceng) selaku Ketua Teater Komedi Kontemporer (TK2), berpendapat tidak bisa memaksa mereka dalam hal tersebut. “Sebenarnya kami tidak ingin menggunakan pelataran gedung B sebagai tempat latihan, tapi tidak adanya ruang latihanlah yang memaksa kami berlatih disini.”
Sebenarnya sejak tahun 1990-an, proposal permohonan ruangan sudah diajukan berkali-kali, namun tidak membuahkan hasil hingga saat ini. Hanya janji-janji kosong saja yang didapatkan. Tak hanya itu, dia juga menyampaikan keluhan tentang larangan penggunaan Home Theatre Fakultas Humaniora dan Budaya, yang notabene merupakan tempat yang tepat untuk pementasan. “Perizinan hanya diberikan sekali, namun selanjutnya tidak diperbolehkan lagi,” jelas mahasiswa PAI semester 9 ini.”Padahal pementasan di SC jelas tidak kondusif, suara menggaung dan tidak sampai ke penonton di belakang. Alternatif outdoor tidak jauh beda, pernah saat cuaca buruk acara diundur sampai hujan reda, sehingga penonton hanya berasal dari komunitas saja. Hal ini sangat menyulitkan kami.”
Sementara bagian kemahasiswaan sendiri tak mau berkomentar banyak. Saat ditanya masalah pengelolaan ruangan di UIN Maliki Malang, Jaiz, selaku Kabag Kemahasiswaan memilih tutup mulut. Dia tak memberikan komentar apapun terkait hal tersebut.
Karena berlabel islam, UIN Maliki Malang menjadi kawasan yang asing bagi para kaum perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Meski tidak selalu, cibiran dan beberapa pendapat miring kerap dikeluarkan para mahasiswa yang menjunjung tinggi peraturan tak tertulis ini. “Awalnya saya negative thinking melihatnya. Tapi meskipun begitu, dalam hati saya yakin bahwa mereka bukan mahasiswa UIN”, papar Nurul Hidayati, salah satu mahasiswi jurusan Akuntansi.
Dari pengakuan Boceng, TK2 memang sering menerima permintaan dari beberapa sekolah untuk melatih pementesan. ”Anak-anak ini berasal dari SMA 3 Pasuruan, dan kami diminta membantu melatih mereka untuk persiapan festival yang akan diselenggarakan Universitas Negeri Malang (UM) pada hari Minggu (14/11),” “Hal semacam ini tidak hanya terjadi sekali, pernah juga siswa dari Blitar, bahkan STAIN Jember mengajukan permintaan bantuan latihan bersama kami,” sambungnya.
Dia menjelaskan bahwa Teater K2, yang didirikan 18 Agustus 1986, disebut merupakan wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakat dalam bidang kesenian. Hal ini, sebagaimana selalu disinggung dalam materi Tarbiyah Ulul Albab (TUA) merupakan salah satu fokus utama UIN Maliki Malang. Berkali-kali juga disebutkan bahwa UIN Maliki Malang sangat menekankan pengembangan seni. Namun ternyata realita yang didapati tak seindah tampaknya.[]

Penguasa di atas penguasa

Kelanggengan Sang Penguasa
Oleh. Fitri Aulia

Secara fungsinal, setiap kehidupan yang berjalan adalah berdasarkan kinerja organisasi. Yang lebih popular dengan istilah interaksi social dalam kajian social. Yang kemudian melahirkan konsep POAC dalam disiplin ilmu management. Setiap aktivitas individu adalah hasil dari kinerja organisasi. Dari organisasi yang bersifat kesatuan sampai meluas ke lingkup yang lebih besar dan lebih besar lagi. Maka wajar saja, jika di dalam lingkup organisasi pemerintahan ada organisasi anak yaitu tiap lembaga, baik yudikatif, legislative dan eksekutif. Di masing-masing badan beranak pinak lagi menjadi organisasi-organisasi yang lebih kecil lagi.
Pun juga sebuah Universitas. Dalam struktur yang berada di tingkat Universitas, mengerucut lagi ke orgaisasi tiap badan. Demikian melaju terus sampai tidak hanya lingkup para dosen dan pembesar kampus, namun semakin melaju hingga ke lingkup aktivitas mahasiswanya.
Dalam bahasa yang cukup sederhana, tiap individu memiliki potensi sebagai ketua atau penguasa. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sekelompok manusia yang dikuasainya. Tiap-tiap individu memiliki keinginan yang berbeda-beda. Dalam pribadi seorang penguasa komponen ini tersusun secara naluriah; “ingin menguasai kelompok yang dikuasainya”. Yang kemudian direpresentasikan dalam satu keadaan dimana ada kekuasaan, kebijakan dan aturan yang dibuat penguasa untuk ditaati oleh semua individu yang dikuasainya.
Telaah mendalam tentang tatanan masyarakat dunia yang terbentuk berdasarkan corak produksi yang berlaku saat itu, dimulai dari era komunal primitive yang lebih akrab dikenal zaman batu, era corak produksi Asiatic, era perbudakan, era feodalisme, era kapitalisme. Dari urutan tiap era tersebut ada pemaksaan penguasa terhadap apa yang dikuasainya. Meski awalnya di era komunal primitive manusia dikenal hidup berkelompok (komune) karena mereka harus bekerjasama untuk bertahan hidup di tengah alam yang ganas. Kemudian setelah ditemukannya tehnik bercocok tanam oleh para kaum perempuan saat itu –yang lebih dikenal Revolusi Neolitik— kemudian berkembang sampai ke pembagian kerja yang berujung pada ekploitasi; praktek segelintir manusia yang mengambil keuntungan dari sekelompok manusia lainnya. Demikian berlangsung sampai terciptalah kelas-kelas social, yang dalam istilah struktur organisasi disebut atasan dan bawahan. Yang kemudian dalam setiap organisasi tersebut kesewenangan penguasa mendapat legalitas resmi dari organisasi yang lebih besar darinya.
Penindasan yang diberi legalitas peraturan dari atasan ini dalam tatanan masyarakat dunia saat itu diperparah sejak masuknya era feodalisme. Penguasa di era feodalisme memiliki kekuasaan yang absolute (hukum mutlak) yang tidak bisa ditawar ulang. Perjalanan penderitaan para bawahan tidak berhenti sampai situ saja. Karena pasca era feodalisme masyarakat hidup di era kapitalisme. Era kebebasan yang melegalkan rakyat miskin sebagai buruh dan mempatenkan hak penuh penguasa untuk memiliki bergunung-gunung kekayaan. Yang sekali lagi, mereka –para penguasa— mendapatkan perlindungan untuk melanggengkan semua keinginannya.

Suprastruktur itu disebut “lembaga”
Subrastruktur adalah ide dan suprastruktur adalah pelaksana ide. Pondasi awal atau yang lebih dikenal dengan istilah ide, kemudian dilembagakan agar lebih terlihat kekuatannya. Subrastruktur tersebut mulai bermain nakal di area suprastruktur ini. Beberapa aturan main diperketat untuk mempatenkan pemenang adalah sang penguasa. Sekuat apapun musuh yang melawan tetap harus dikalahkan. Mulai dari sang komunalis seperti tawaran Karl Marx sampai kepada sang demokratis. Kursi kekuasaan itu tidak akan runtuh dari tangan sang penguasa.
Adanya struktur pemerintahan adalah sebagai wadah dari setiap subrastruktur yang lahir dari sang penguasa, tidak bisa tidak karena struktur pemerintahan tersebut adalah produk dari para person yang memiliki kekuasaan dan sekaligus yang ingin selalu menguasai.
Maka sama sekali tidak bisa dibenarkan bahwa keberadaan struktur adalah untuk menyelamatkan para bawahan yang ingin mendapatkan pembelaan.

Demokratis pun tetap bukan solusi
Seakan penderitaan para bawahan tidak akan pernah surut. Suprastruktur adalah alat subrastruktur untuk selalu melenggangkan kekuasaannya. Maka segala hal yang menjadi tawaran para penguasa di suprastruktur adalah bentukan dari subrastruktur. Kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945 bukanlah kapsul mujarab yang menjadi berkah untuk semua rakyat indonesia sejak saat itu sampai sekarang ini –terlepas dari banyaknya factor politis yang dibuat Presiden Soekarno dengan para tentara Jepang— namun selembar surat pernyataan kemerdekaan tersebut hanyalah alat untuk melanggengkan kekuasaan sang subrastruktur yang dilancarkan oleh pihak suprastruktur.
Tahun 2009 hanya untuk SD dan SMP Negeri, pemerintah sibuk membuat iklan layanan sekolah gratis, hampir semua media masa diajak bekerja sama untuk turut serta menyukseskan sosialisasi program terbarunya. Bahkan ini pun terlepas dari semua kendala administrasi dan tetek bengeknya yang ribetnya minta ampun. Di tahun 2009 selang beberapa bulan setelah sosialisasi diknas mulai marak, Adi anjal berusia kelas 1 SD –yang juga warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pelayanan pendidikan— saat itu diantar dua relawan dari Griya baca (komunitas peduli anjal). Menuturkan merasa luar biasa dipersulit oleh pihak birokrasi sekolah SDN Kauman 2 saat ingin mendaftarkan Adi. Mereka sudah membawa seperangkat proposal dan lembaran-lembaran lain yang disyaratkan. Prosedur dianggap bertele-tele ini menjadi semakin memperjelas ketiadaan kesungguhan dalam pewujudan dari sosialisasi mendiknas atas program sekolah gratisnya. Alasan mencerdaskan anak bangsa bak jadi bagian terburuk dari rencana sang subrastruktur.
Semua program layanan masyarakat menjadi pemanis yang bukan tanpa bahan buatan; semuanya murni buatan. Buatan untuk memburamkan keburukan-keburukan sang subrastruktur yang tetap menginginkan kekuasaan.
Dan demokratis yang menjunjung tinggi hak pilih warga menjadi ambigu.[]

Kamis, 16 Desember 2010

Pelantikan DKM tidak meninggalkan bekas

DKM, akhirnya dilantik juga
Oleh. Fitri aulia

Senin (14/12), telah dilakukan pelantikan pengurus Dewan Kesenian Malang (DKM) di Kantor Pemerintahan Kota Malang . Pelantikan ini akhirnya terlaksana setelah bertahun-tahun yang lalu seluruh beberapa founding father DKM mengajukan diri dan mengadakan pertemuan berkali-kali kepada pihak pemerintah.
DKM yang dalam strukturnya diletakkan di bawah Dinas kesenian dan pariwisata kota malang, dilantik oleh sekretaris Bupati Kota Malang, hal ini dikarenakan Peni Suprapto (Bupati Kota Malang) sedang berada di luar kota.
Dari SK yang didapatkan tertulis sekitar 20 lebih anggota yang menjadi pengurus di DKM ini. Namun menurut keterangan Sari, selaku bendahara DKM yang juga baru saja dilantik, pengurus yang hadir saat hanya sekitar belasan orang saja.
Prosesi pelantikan berlangsung beberapa saat, setelah diadakan gladi kotor beberapa kali, akhirnya pelantikan pun digelar. Kantor DKM yang terletak di belakang Kantor Balai Kota, tetap sepi setelah pelantikan berlangsung. DKM yang dianggap beberapa pihak mati suri ini (karena tidak adanya program kerja. Red), tetap sepi meski telah diadakan pelantikan secara resmi oleh pemerintah kota. Sari menuturkan, seusai pelantikan ada sebagian yang ikut jamuan makan dan sebagian banyak yang langsung pulang, namun sari adalah satu-satunya pengurus yang berhasil dijumpai di DKM pasca pelantikan berlangsung. Meski ada beberapa personil yang Ntmpak di kantor DKM mereka bukanlah pengurus inti yang usai dilantik.
Hal ini menunjukkan ketidak sungguhannya para pengurus DKM dalam mengemban amanat yang baru saja disampaikandalam pelantikan. Yongki sangat menyayangkan hal ini, “mestinya pengurus yang usai dilakntik itu ya mampir lah ke rumahnya (DKM), ya paling tidak menyusun tanggal kapan bisa mengadakan rapat untuk membahas DKM ke depan. Tapi sama saja mau sebelum atau sesudah dilantik kantor ini tetap sepi.”
Untuk memajukan semua kesenian di kota malang memang sangat dibutuhkan kesungguhan dalam melaksanakan semua pembaruan. “yang paling penting adalah menumbuhkan kecintaan dulu kepada seni, karena dengan kecintaan tersebut akan lebih mudah mendorong keinginan yang kuat dalam menjalankan amanat di DKM, baik dengan atau adanya pelantikan dan SK dari pemerintah kota.’” Jelas Sari bendahara DKM yang juga pecinta seni ini. []