Selasa, 28 Desember 2010

Features orang

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Dmaestro Edisi Oktober 2004

Haji Agus Salim: Guru para pemuda, ulama, dan diplomat Indonesia
            
Membicarakan Haji Agus Salim sangat aktual bulan Oktober ini. Dia lahir bulan Oktober, dia gurunya para pemuda di Jong Islamieten Bond yang ikut Sumpah Pemuda bulan Oktober 1928, bulan Oktober tahun ini juga dimulai bulan Ramadhan dan Agus Salim adalah seorang ulama dan guru para ulama di Indonesia. Dua bulan yang lalu (Agustus 2004) juga baru terbit buku “Pidato Perpisahan Haji Agus Salim (sebelum meninggal) di Cornell University Amerika Serikat”. Buku itu diterbitkan oleh Pusat Kajian Indonesia di Cornell University Amerika Serikat. Bulan Oktober ini juga kita akan mengetahui siapa pemimpin Republik Indonesia, teladan kepemimpinan juga bias kita ambil dari Agus Salim yang tidak mementingkan golongannya. And The Story Begin:
Dalam sebuah rapat umum ada suara mengembik dari massa yang salah seorangnya adalah Sutan Syahrir, “Embeeek-Embeeeek” (mengejek Haji Agus Salim yang berjenggot dan diibaratkan seperti kambing oleh yang mengejeknya).
“Bismillahir Rahmanir Rahim”, kata Agus Salim.
“Mbeeek.. Mbeeek..” seru suara dari massa.
“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, Agus Salim membuka pembicaraan.
“Mbeeek… Mbeeeeek….”, seru massa lagi.
Agus Salim menjawab dgn cerdas, “Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambingpun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya saying sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan untuk sementara kambing-kambing dibawa ke luar untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini, yang ditujukan kepada manusia selesai, kambing-kambing akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam bagi kambingpun ada amanatnya. Dan saya menguasai banyak bahasa”.
Suatu jawaban yang cerdas dan diplomatis. Ya Agus Salim memang cerdas, menguasai banyak bahasa dan gurunya para diplomat Indonesia sejak zaman Belanda sampai awal kemerdekaan Indonesia.
Haji Agus Salim dikenal sebagai seorang ulama, diplomat, dan penulis hebat di Indonesia. Pengetahuannya yang luas mengenai agama Islam, dipadu dengan intelektualitas, kesederhanaan, serta kematangan berpolitik menjadikannya salah satu tokoh terkenal pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketaatannya pada ajaran agama Islam tidak mengekang jiwanya yang bebas mendengarkan suara hati nuraninya, baik dalam kiprah politiknya maupun dalam kehidupan pribadinya. Ia tokoh pembaharu Islam dan pembawa kemajuan. Hal ini terlihat ketika ia membuka tabir pemisah dalam pengajian yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Ia ingin wanita dan laki-laki setara kedudukannya. Iapun tidak memaksakan agama Islam untuk menjadi agama resmi ataupun agama yang mendominasi bangsa Indonesia. Ini terlihat ketika ia menyetujui usul Mohammad Hatta untuk menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta yaitu “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Hal yang sering dilupakan ketika kita membicarakan sejarah Indonesia adalah fakta bahwa ketika usia 41 tahun (yaitu tahun 1925) Haji Agus Salim membentuk dan menjadi penasehat Jong Islamieten Bond, tempat berkumpulnya anak-anak muda intelektual muslim yang kemudian mayoritas bergabung dalam Partai Masyumi, suatu partai moralis pembela demokrasi (Ada juga yang bergabung dalam PSI yaitu Mr. Hamid Algadri). Para intelektual muda muslim ini adalah di antaranya Mohammad Roem, Mohammad Natsir, Buya Hamka, A.R. Baswedan. Buya Hamka nantinya menjadi guru Cak Nur, Azyumardi Azra, Ruydi Hamka, dan Fachry Ali. Mohammad Natsir menjadi guru Cak Nur, Yusril Ihza Mahendra, Amien Rais, Didin Hafiduddin, Imaduddin Abdul Rahim, dan Deliar Noer. Mohammad Roem menjadi guru Cak Nur dan Adi Sasono. Jadi Agus Salim menjadi akar iilmuwan, pemikir, pendidik, dan politisi Indonesia.
Anggota-anggota Jong Islamieten Bond ini juga pada tahun 1928 mengikuti Kongres Pemoeda II yang menelurkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Agus Salim selain menjadi menteri luar negeri setelah Indonesia merdeka ia juga menjadi penasehat semua Menteri luar negeri sampai akhir hayatnya tahun 1954. Sejak Sutan Syahrir, Mohammad Roem, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan lain-lain. Jadi ia bukan saja guru intelektual Muslim Indonesia tetapi juga guru para diplomat Indonesia dan peletak dasar diplomasi kementrian luar negeri Republik Indonesia.
Ia juga seorang yang anti sekolah (terutama sekolah Belanda). Dari kesebelas anaknya tidak ada yang menempuh pendidikan sekolah kecuali yang bungsu, itupun setelah Indonesia merdeka dan langsung masuk SMP tidak sekolah SD. Tetapi kecerdasan semua anaknya itu dikagumi dan diakui walaupun mereka tidak sekolah. Agus Salim mendidik sendiri semua anaknya itu.
Agus Salim yang lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Bukit Tinggi Sumatra Barat dan keturunan jaksa wilayah ini memang seorang yang cerdas. Mungkin ada faktor genetik juga dari ayahnya yang jaksa dan kakeknya yang ulama serta keluarga ibunya yang ulama.
Ketika Salim lulus dari HBS (Hogere Burgerschool, setingkat SMA) ia menjadi lulusan HBS terbaik di seluruh Indonesia. Hal ini menyebabkan R.A. Kartini mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk mengalihkan bea-siswa untuk dirinya (tetapi dihalangi orangtua Kartini) agar diberikan kepada Agus Salim saja untuk melanjutkan ke sekolah kedokteran di Belanda. Tapi pemerintah Belanda tidak mengabulkannya.
Tapi memang di balik semua musibah ada hikmah. Haji Agus Salim di kemudian hari bersyukur tidak jadi menerima bea-siswa kedokteran. “Kalau saya menerima bea-siswa kedokteran belom tentu saya menjadi tokoh pergerakan dan pejuang Indonesia merdeka”, katanya di Cornell University, Amerika Serikat.
Haji Agus Salim juga jenius di bidang Bahasa. Ia menguasai Bahasa Belanda, Inggris, Arab, Perancis, Jerman, Turki, dan Jepang. Wajar saja kalau ia menjadi filosof sekaligus Mbah-nya para diplomat Indonesia. Memang tokoh yang luar biasa. Akankah Indonesia melahirkan orang besar seperti ini lagi? Mari kita bertanya saja pada rumput yang bergoyang!
(Agung Pribadi)
Sejarawan, Peneliti pada Yayasan Harkat Bangsa.

Artikel orang lain #3

Moral Yang Telah Membusuk Dengan Sempurna
oleh Lila Zee pada 12 September 2009 jam 4:50
Belum lama ini temanku berbagi cerita kepada aku, tentang kondisi kantornya yang sangat meresahkannya. Banyak hal yang membuatnya resah dan jenuh bekerja di situ. Memang lebih banyak masalah keuangan perusahaan yang membuatnya resah, karena kebetulan temanku ini adalah seorang staff accounting di perusahaan itu.
Dia bercerita bagaimana semua Project Manager di perusahaannya lihai memainkan amount material proyek hingga ratusan juta rupiah. Belum lagi si Project Pembelian yang senang melakukan mark up harga material. Tidak ketinggalan pula sang Manager HRD yang suka bersikap seperti preman pasar, yang suka meminta jatah komisi dari agen asuransi.
Yang menurut saya paling seru adalah ulah beberapa Manager yang masih terkait dengan proyek dan mempunyai banyak staff untuk membuat perusahaan di dalam perusahaan. Mereka mencari order untuk dirinya sendiri, namun mengerjakannya menggunakan fasilitas perusahaan dan tidka jarang pula memanfaatkan tenaga kerja milik perusahaan, namun keuntungannya masuk kantong sendiri.

Apakah yang bermain hanya yang level manager ? Temanku bilang, hampir semua lini yang mempunyai kesempatan untuk korupsi, pasti melakukan korupsi. Sebagai contoh, staff yang bertugas untuk melakukan pembayaran site project juga melakukan main mata dengan pemilik lahan. Tulisan angka-angka yang ada di atas kuitansi, berbeda dengan harga yang sebenarnya. Bukan hanya itu, staff bagian warehouse juga sering melakukan main-main dengan material proyek, dijualnya ke pihak lain dengan harga special plus sedikit manipulasi data-data di atas kertas.

Saya tanya, dari mana dia tahu semua itu, jangan-jangan itu hanya fitnahnya dia yang mungkin lagi bosan kerja di perusahaan itu. Temanku bilang bahwa Agen Asuransi itu adalah temannya sendiri yang mengeluh kena kompas HRD Managernya. Kemudian supplier yang tahu harga material adalah teman dari saudaranya, dan para pekerja lapangan yang rajin curhat kepada temanku ini, mengingat temanku ini memang cukup dekat dengan para pekerja lapangan. Dan seahu saya memang para pekerja lapangan itu memang pihak yang sering dikira tidak buka mulut, padahal transaksi para boss dengan par akolega bisnisnya mereka juga tahu, belum lagi bila para Project Manager itu memerintahkan pekerja lapangan itu untuk mengangkut material “curian” itu ke gudang pribadinya.

Yang sungguh menggelikan baginya adalah, hampir semua orang yang terlibat dalam urusan manipulasi dankorupsi di kantornya itu adalah orang-orang yang nota bene “Orang-orang Rajin Beribadah”. Sholatnya rajin, bahkan sering tepat waktu, dan bahkan ada yang sampai hitam jidatnya, kalau berbicara selalu dikaitkan dengan Tuhan, dan sering mengkritik orang lain yang dianggapnya melakukan perbuatan yang kurang sholeh, dan tidak ketinggalan pula yang perempuan adalah perempuan yang taat dalam urusan menutup auratnya.
Bahkan ada yang sangat menggelikan, yaitu ada seorang Project Manager yang baru pulang dari menunaikan ibadah Haji, kok ya kasus korupsinya malah terbongkar. Lantas pikiran nakalku berkata “Wih... jangan-jangan uang untuk hajinya itu adalah uang jual material Bo’...hahahaha” .

Mendengar curhat dari temanku ini, aku hanya tertawa dalam hati. Tidak ada kata-kata lagi yang aku ucapkan, karena sudah terlalu banyak kasus semacam ini yang aku temui dan aku dengar. Banyak sekali manusia yang senang mengkritik orang lain, bahkan sampai berbusa-busa memberikan khotbah yang katanya untuk memperbaiki moral dan akhlak manusia, ternyata hati, pikiran dan perbuatannya sangat busuk.

Tidak mengherankan, bila orang yang terlalu sibuk mengurusi moral orang lain, biasanya suka lupa dengan dirinya sendiri, yang ternyata moralnya telah membusuk dengan sempurna.


Menyedihkan..... mengenaskan...... sekaligus menggelikan.... hihihihi..........

Artikel orang lain #2

Surat Kepada Tuhannya Temanku
oleh Lila Zee pada 07 Juli 2010 jam 8:26
Jakarta, 7Juli 2010

Kepada :
Yang disebut Tuhan oleh temanku

Salam,
Temanku baru saja bercerita kepadaku, bahwa dirinya tidak pernah bisa merasakan kepuasan ketika melakukan hubungan seksual dengan suaminya, dan jika selama ini dia melayani suaminya di ranjang maka itu hanya sebagai pelaksanaan kewajibannya sebagai istri, karena menurutnya jika seorang istri menolak akan suaminya untuk berhubungan sex, maka Tuhan beserta malaikatNya akan mengutuk si istri tsb, karena seorang lelaki tidak bisa menahan hasrat seksualnya bila hasrat itu muncul dan tidak mendapatkan pemuasan.
Wahai Engkau yang disebut sebagai Tuhan oleh temanku….. benarkah demikian ? Mengapa Engkau sebagai Tuhan begitu gemar mengutuk ?? Dan apakah memang Engkau menganggap sex hanya menjadi milik lelaki ??
Lalu apakah Engkau pun akan mengutuk lelaki yang mempunyai banyak istri dengan alasan tak bisa menahan nafsu dan daripada berzina maka lebih baik mengawini banyak istri ?? Lantas bagiamana dengan perempuan yang juga mengajukan alasan yang sama ??
Wahai Engkau yang disebut sebagai Tuhan oleh temanku….. mengapa Engkau begitu peduli dengan urusan sex dan ranjang manusia ?? Bahkan Engkau pun memerintahkan para malaikatmu yang konon katanya suci, untuk ikut andil dalam mengutuk manusia ??
Konon Engkau pun dikatakan Maha Pengasih dan Penyayang segala makhluk, namun mengapa engkau memberikan kutukan ?? Di mana Kasih-Mu ??
Mengapa pula Engkau rajin mengurusi selangkangan manusia ?? Begitu menarikkah selangkangan manusia bagiMu Wahai engkau yang disebut Tuhan oleh temanku…..??
Aaaahhh……………… Engkau memang sosok yang absurd bagiku, dan tak salah bila aku tak menganggapmu Tuhan……. Toh Engkaupun tak rugi juga tak mempunyai umat sepertiku, karena Engkau masih mempunyai jutaan umat perempuan yang siap dan rela Engkau berikan kutuk…
Wahai Engkau yang disebut Tuhan oleh temanku…… aku rasa cukup sekian suratku padaMu, dan semoga Engkau bersedia menjawab semua pertanyaan sederhanaku ini.
Jika Engkau bisa melihat apa yang terjadi di atas ranjang semua umatMu, maka Engkau pun pasti mampu membaca suratku ini, namun itu juga bila Engkau mampu membaca tulisan dalam bahasa Indonesia

Salam sejahtera,

Zee

Artikel orang lain

Saya Memilih untuk Menjadi Perempuan Terkutuk yang Merdeka
oleh Lila Zee pada 25 September 2010 jam 15:49

Seorang rekan bercerita kepada saya bahwa salah seorang keponakannya (anak dari abangnya) tidak diizinkan oleh ayahnya untuk kuliah setelah lulus dari SMA, dengan alasan bahwa seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan lelaki tanpa didampingi oleh ayahnya maupun saudara lelakinya. Dahulu keponakan teman saya itu sekolah setingkat SMA di sebuah boarding school yang memisahkan antara siswa lelaki dan siswa perempuan. Sedangkan untuk sekolah setingkat universitas belum ada yang memisahkan antara siwa lelaki dan perempuan seperti itu, sehingga keponakan teman saya itu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.

Pembicaraan ini membuat saya kepikiran terus dan sedikit resah, walaupun teman saya itu bercerita dengan nada enteng dan tampak tidak ada beban sama sekali.



Yang membuat saya gundah adalah, apa jadinya bila orang yang mempunyai pemikiran seperti itu semakin banyak di negeri kita ini ? Apakah negeri kita hendak dijadikan seperti neraka Afghanistan yang pernah dikuasai oleh Taliban yang mempunyai pemikiran yang sama dengan abang teman saya itu…?! Bagaimana nasib perempuan Indonesia bila orang tua mereka memperlakukan anak-anak perempuannya seperti itu ?



Anehnya, justru orang-orang yang memperlakukan perempuan seperti itu lah yang sering memproklamirkan diri bahwa mereka tau bagaimana cara memuliakan perempuan. Apa sebenarnya definisi mulia bagi mereka ? Apakah perempuan terpasung yang tidak berhak untuk mengekspresikan eksistensinya itu kah yang dianggap sebagai perempuan mulia ?

Mengherankan sekali bila di abad 21 ini masih ada manusia yang berpikir seperti itu, lebih memilih anaknya tidak mengenyam pendidikan tinggi daripada membiarkan anak perempuannya bergaul dengan lelaki. Mengapa orang-orang seperti ini tidak bisa melihat bahwa manusia-manusia lain perempuan dan lelaki bisa bebas bergaul namun tidak terjadi sesuatu yang menakutkan. Apakah dalam pikiran orang-orang seperti itu hanya urusan seks saja yang terlintas ? Apakah dia pikir bila lelaki dan perempuan bertatap muka, berbincang-bincang, dan sering bertemu pasti akan terjadi sebuah hubungan seks ? Oh Tuhan….. ada apa dengan orang-orang ini ?



Pemikiran mereka benar-benar di luar nalar dan sangat melecehkan perempuan, dan saya sebut mereka sebagai orang-orang yang sebagai “anti terhadap kemanusiaan”. Perempuan hanya dianggap sebagai seonggok daging bernyawa yang tidak punya hak untuk mengurus dirinya sendiri dan dianggap tidak mampu menjaga diri sebagaimana seorang lelaki.

Apakah ini sebuah perintah dari Tuhannya ? Lantas Tuhan macam apa yang memperlakukan ciptaan-Nya dengan cara yang tidak manusiawi seperti ini yang kemudian semuanya diatasnamakan sebagai “Kemuliaan Perempuan” ?!



Bila hanya dengan jalan seperti itulah sebuah kemuliaan dapat dicapai oleh seorang perempuan dan bila hal itu dikatakan sebagai perintah Tuhan….. Sungguh…. saya tidak akan mempertuhankan sosok yang biadab dan melecehkan perempuan, dan saya lebih memilih untuk menjadi “Perempuan Terkutuk” yang merdeka.

Materi-Materi jurnalistik

Menulis di Media Massa
Oleh Khoirul Anwar

Batasan
Kata menulis di sini kita batasi dengan menulis artikel ilmiah populer di media massa. Bukan tulisan dalam bentuk berita/informasi, puisi, cerpen, novel, dkk.

Mengapa menulis di media sulit?
Media, terutama Koran, sangat banyak menerima artikel dari luar. Rata-rata 10-30 artikel per hari. Misalnya Jawa Pos (25-30 artikel per hari), Kompas (30 ke atas), Republika (15 artikel), Radar Malang (5 artikel), dll. Karena banyaknya pengirim, maka persaingannya sangat tinggi.

Apakah bukan berarti tidak bisa ditembus?
Bisa. Tapi harus tahu trik dan tipsnya.

Caranya?
1. Cari tahu karakteristik media yang akan Anda kirimi artikel.
2. Cari momen yang tepat saat Anda mengirim artikel.
3. Cari tahu bagaimana media menerima artikel dari luar
4. Pelajari seperti apa model artikel yang diterima yang akan Anda kirimi.

Seperti apa karakteristik media?
Media memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan itu terkait misi dan segmen media. Contoh: Jika Anda mau mengirim artikel keagamaan, jangan kirim ke Jawa Pos. Karena Jawa Pos suka artikel actual karena Jawa Pos berbasis umum. Kirimlah ke Republika atau media yang berbasis agama.
Jadi sekali Anda keliru mengirim ke media yang tidak sesuai dengan misi tulisan, maka akan sangat sulit menembus media itu.

Seperti apa momen yang tepat mengirim artikel?
Media massa menyukai momen dan aktualitas. Maka dari itu perhatikan momen, karena itu sangat penting. Dengan mengetahui momen, Anda akan bisa dengan cepat menentukan akan menulis artikel model apa.

Apa saja model artikel itu?
1. Artikel situasional
2. Artikel aktualitas
3. Artikel getaran
4. Artikel misi

Bagaimana media menerima artikel dari luar?
Biasanya media menunjukkan cara bagaimana orang luar mengirim artikel. Ada banner atau disclaimer yang dibuat media tersebut. Lakukan apa permintaan dalam disclaimer media itu.


Dari sisi penulis, apa yang harus diperhatikan?
Media sangat memperhatikan kapabilitas penulis. Karena itu jika Anda ingin artikelnya diterima, maka kapabilitas harus diperhatikan. Jika Anda ahli hokum menulislah hukum, dll.

Bagaimana memulai menulis?
Ada tiga masalah klasik yang dihadapi penulis. (1) Tidak punya ide menulis, (2) sudah punya ide tapi tak bisa memulai, dan (3) sudah bisa menulis tapi di tengah jalan macet. Karena itu tiga masalah klasik ini harus dipecahkan dulu.

Mau menulis ide buntu, bagaimana membukanya?
Berpikirlah peka terhadap hal-hal yang aktual, kedekatan, getaran kuat, ketokohan, situasional, sensasional, human interest, dan sesuatu yang baru. Karena itu banyak baca merupakan kewajiban bagi penulis.

Bagaimana memulai menuliskan ide?
- Jangan takut memulai menulis.
- Mulai dari hal-hal ringan. Misalnya kutipan (langsung atau tak langsung), pertanyaan, atau data-data ringan.

Bagaimana mengatasi kemacetan menulis?
Menulis itu sebenarnya menjalankan segitiga pemikiran. Ide-Pertanyaan-Jawaban. Maka, jika berhenti pertanyakan dan jawablah kembali ide awal Anda.

Apakah menulis harus ada outline?
Bisa juga, bisa juga tidak. Terserah. Tapi yang terpenting menulis itu harus mengalir.

Kok sulit ya?
Menulis artikel itu mudah. Jika Anda bisa bicara, maka Anda pula bisa menulis.


* Penulis adalah pemimpin redaksi Radar Malang

Teropong Kampus #2

PENJUAL “TEH NDA” MASUK KAMPUS
Oleh : Nurlyta Virlyani

Beberapa mahasiswa yang melintas di lobi gedung B, dikejutkan dengan berdirinya stand minuman teh Nda di bawah tangga yang terletak di depan kantor bersama. Menurut keterangan salah satu ibu satpam yang sedang bertugas, ia sudah melihat stand itu berdiri sejak senin 15 November 2010. Tapi karena hari itu sedang libur menjelang Hari Raya Idhul Adha. Maka ditunda sampai jum’at 19 November2010. Selain di gedung B, dijumpai satu stand lagi di depan SC. Pemilik dari stand ini adalah Fitria Dina Riana. Setiap stand menjual berbagai macam minuman berjenis teh.
Menurut Jaiz Kumkelo selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan; orang yang berjualan di sekitar kampus adalah yang sudah memenuhi system persyaratan. Namun lebih detail beliau menyatakan tidak memahami system perijinan penjual Teh Nda ini. karena dari pengakuannya bukan kuasa beliau. Sama halnya dengan Pernyataan A. Heru Achadi Hari selaku kabag Umum, “ yang saya tahu hanya tentang KOPMA dan Kantin. Untuk masalah dua penjual minuman di gedung B dan SC saya tidak ada sangkut pautnya”. Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa yang memiliki wewenang tentang permasalahan ini adalah para pimpinan atasan. ”Setahu saya, penjual itu berkaitan dengan pimpinan birokrasi dan PR2, mungkin sudah diizinkan Rektor”, tambahnya.
Menurut memo yang diterima oleh pihak perusahaan “The Nda” dari pihak birokrasi –yang jadi landasan perizinan buka stand di wilayah kampus UIN—. “Harap konter The Nda dapat ditolerir penempatannya karena sudah ada kontrak dengan rektor”. Memo yang di bawah tanda tangannya tertera nama terang Dra. Cholidah selaku Ka. Biro Adm. Umum ini tertanggal 15 November 2010.
Namun setelah ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan, Cholidah mengaku tidak pernah ikut campur dalam perizinan tersebut. “Yang mengizinkan itu Pak Rektor, semua yang berkaitan dengan kampus ini harus diizinkan Rektor, termasuk penjual teh tersebut”, ujar Cholidah. Beliau sebagai Kepala Biro Administrasi Umum hanya bertugas untuk mengecek sistem saja. “saya hanya mengecek system, kalau system perizinan sudah benar, saya setujui, tapi kalau masih belum lengkap maka perizinan tidak akan saya setujui”. Ujarnya.

Teropong Kampus

TK2 Butuh Home Theatre
Oleh: Asri Aisyah El Zahra & M. Roihan Rikza

Sabtu sore (12/11) sepulang PKPBA, para mahasiswa yang melintas di sekitar gedung A dan gedung B terkejut oleh aksi tarian dan olah vokal yang digelar oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang tidak mengenakan jilbab. Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata sekelompok ini adalah binaan teater TK2. Efendi (yang lebih akrab disapa Boceng) selaku Ketua Teater Komedi Kontemporer (TK2), berpendapat tidak bisa memaksa mereka dalam hal tersebut. “Sebenarnya kami tidak ingin menggunakan pelataran gedung B sebagai tempat latihan, tapi tidak adanya ruang latihanlah yang memaksa kami berlatih disini.”
Sebenarnya sejak tahun 1990-an, proposal permohonan ruangan sudah diajukan berkali-kali, namun tidak membuahkan hasil hingga saat ini. Hanya janji-janji kosong saja yang didapatkan. Tak hanya itu, dia juga menyampaikan keluhan tentang larangan penggunaan Home Theatre Fakultas Humaniora dan Budaya, yang notabene merupakan tempat yang tepat untuk pementasan. “Perizinan hanya diberikan sekali, namun selanjutnya tidak diperbolehkan lagi,” jelas mahasiswa PAI semester 9 ini.”Padahal pementasan di SC jelas tidak kondusif, suara menggaung dan tidak sampai ke penonton di belakang. Alternatif outdoor tidak jauh beda, pernah saat cuaca buruk acara diundur sampai hujan reda, sehingga penonton hanya berasal dari komunitas saja. Hal ini sangat menyulitkan kami.”
Sementara bagian kemahasiswaan sendiri tak mau berkomentar banyak. Saat ditanya masalah pengelolaan ruangan di UIN Maliki Malang, Jaiz, selaku Kabag Kemahasiswaan memilih tutup mulut. Dia tak memberikan komentar apapun terkait hal tersebut.
Karena berlabel islam, UIN Maliki Malang menjadi kawasan yang asing bagi para kaum perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Meski tidak selalu, cibiran dan beberapa pendapat miring kerap dikeluarkan para mahasiswa yang menjunjung tinggi peraturan tak tertulis ini. “Awalnya saya negative thinking melihatnya. Tapi meskipun begitu, dalam hati saya yakin bahwa mereka bukan mahasiswa UIN”, papar Nurul Hidayati, salah satu mahasiswi jurusan Akuntansi.
Dari pengakuan Boceng, TK2 memang sering menerima permintaan dari beberapa sekolah untuk melatih pementesan. ”Anak-anak ini berasal dari SMA 3 Pasuruan, dan kami diminta membantu melatih mereka untuk persiapan festival yang akan diselenggarakan Universitas Negeri Malang (UM) pada hari Minggu (14/11),” “Hal semacam ini tidak hanya terjadi sekali, pernah juga siswa dari Blitar, bahkan STAIN Jember mengajukan permintaan bantuan latihan bersama kami,” sambungnya.
Dia menjelaskan bahwa Teater K2, yang didirikan 18 Agustus 1986, disebut merupakan wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakat dalam bidang kesenian. Hal ini, sebagaimana selalu disinggung dalam materi Tarbiyah Ulul Albab (TUA) merupakan salah satu fokus utama UIN Maliki Malang. Berkali-kali juga disebutkan bahwa UIN Maliki Malang sangat menekankan pengembangan seni. Namun ternyata realita yang didapati tak seindah tampaknya.[]